Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Nilai tukar rupiah memulai perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.881 per dolar AS, turun sekitar 0,17 persen, seiring sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Indonesia maupun Amerika Serikat.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan yang juga dialami sebagian besar mata uang di kawasan Asia.
Baca Juga:
Won Korea menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar terhadap dolar AS, yakni sebesar 0,49 persen.
Disusul peso Filipina yang turun 0,21 persen, rupee India dan yen Jepang yang masing-masing melemah 0,15 persen, dolar Taiwan turun 0,14 persen, dolar Singapura melemah 0,07 persen, dolar Hong Kong turun 0,03 persen, serta baht Thailand yang terkoreksi 0,01 persen.
Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia bergerak negatif.
Ringgit Malaysia justru menguat 0,33 persen terhadap dolar AS, sementara yuan China naik tipis sebesar 0,03 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan rupiah diperkirakan masih terbatas dengan kecenderungan melemah karena pelaku pasar memilih menunggu berbagai indikator ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.
"Rupiah diperkirakan akan range bound terhadap dolar AS dengan potensi melemah terbatas. Investor cenderung wait and see serentetan data ekonomi penting baik dari domestik maupun AS pekan ini," ujarnya.
Menurut Lukman, selain menunggu data ekonomi, investor juga masih memperhatikan perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang dinilai masih berubah-ubah.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
"Perkembangan geopolitik yang berubah-ubah di Timur Tengah juga membuat investor berhati-hati," katanya.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada rilis sejumlah indikator ekonomi yang dijadwalkan terbit pada Rabu (1/7/2026), yakni data aktivitas manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan Indonesia.
Ketiga data tersebut akan menjadi gambaran kondisi ekonomi nasional sekaligus menjadi acuan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter ke depan.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, pasar juga menantikan data aktivitas manufaktur yang dirilis pada hari yang sama.
Setelah itu, fokus investor akan beralih ke laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Kamis (2/7/2026).
Data NFP menjadi salah satu indikator ekonomi yang paling diperhatikan pasar global karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.
Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi semakin menguat dan memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kepastian dari berbagai data tersebut sebelum mengambil langkah investasi berikutnya.* (bi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.