BREAKING NEWS
Minggu, 05 Juli 2026

Pekan Depan Harga Emas Diperkirakan Menguat, Ini Faktor Pemicunya

Johan - Minggu, 05 Juli 2026 13:23 WIB
Pekan Depan Harga Emas Diperkirakan Menguat, Ini Faktor Pemicunya
Harga emas diperkirakan masih akan melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. (Foto: rajaemasindonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Harga emas diperkirakan masih akan melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Penguatan tersebut didorong oleh ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, serta meningkatnya pembelian emas oleh sejumlah bank sentral dunia.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berpotensi bergerak di kisaran Rp2.690.000 hingga Rp2.780.000 per gram apabila tren penguatan di pasar global terus berlanjut.

"Apabila menguat, level resisten pertama berada di Rp2.690.000 per gram. Jika penguatan berlanjut, harga berpeluang mencapai resisten kedua di Rp2.780.000 per gram," kata Ibrahim dalam analisis mingguannya, Minggu (5/7/2026).

Baca Juga:

Pada penutupan perdagangan pekan ini, harga emas tercatat berada di level Rp2.670.000 per gram.

Meski demikian, Ibrahim menilai potensi pelemahan harga emas relatif terbatas. Jika muncul sentimen negatif, harga diperkirakan bergerak di kisaran Rp2.550.000 hingga Rp2.650.000 per gram.

Menurutnya, salah satu faktor utama yang menopang kenaikan harga emas adalah kemungkinan The Federal Reserve mempertahankan bahkan menurunkan suku bunga acuannya.

Prospek tersebut didukung oleh perkiraan inflasi Amerika Serikat yang mulai melandai seiring turunnya harga minyak dunia setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, data ekonomi Negeri Paman Sam, termasuk sektor ketenagakerjaan, juga menunjukkan perbaikan.

"Ada kemungkinan inflasi turun sehingga bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga. Bahkan jika harga minyak terus turun, suku bunga berpotensi ikut diturunkan. Kondisi ini akan mendorong harga emas kembali menguat," ujar Ibrahim.

Ia bahkan memperkirakan harga emas dunia berpeluang menuju level US$5.000 per troy ons apabila tren positif tersebut terus berlanjut.

Selain faktor kebijakan moneter, meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara juga diperkirakan menjadi penopang harga logam mulia.

Ibrahim menjelaskan, sejak Mei 2026 bank sentral global telah membeli sekitar 41 ton emas batangan. China menambah sekitar 10 ton sehingga total cadangannya mencapai 2.331 ton. Sementara Uzbekistan menambah sekitar 9 ton, Kazakhstan 7 ton, dan Singapura sekitar 4 ton.

Menurutnya, saat harga emas terkoreksi, banyak bank sentral memanfaatkan momentum tersebut untuk menambah cadangan emas sebagai aset lindung nilai.

"Ketika perang AS-Iran mereda, Selat Hormuz kembali dibuka, harga minyak turun, dan suku bunga global berpotensi menurun, kondisi tersebut menjadi katalis positif yang dapat mendorong harga emas melonjak lebih tinggi," pungkasnya.* (d/dh)

Editor
: Johan
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru