BREAKING NEWS
Rabu, 29 Juli 2026

Rupiah Tersungkur ke Rp18.109, Ini Penyebab Mata Uang Garuda Tertekan

Dharma - Rabu, 29 Juli 2026 10:18 WIB
Rupiah Tersungkur ke Rp18.109, Ini Penyebab Mata Uang Garuda Tertekan
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu, 29 Juli 2026.

Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah melemah sebesar 0,14 persen ke posisi Rp18.109 per dolar AS.

Baca Juga:

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi global.

Investor mulai mencari aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, salah satunya dolar AS, ketika ketidakpastian geopolitik kembali meningkat.

Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga ikut mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Dolar Taiwan menjadi mata uang Asia yang mengalami pelemahan terbesar dengan depresiasi sebesar 0,27 persen.

Kemudian, won Korea Selatan melemah 0,05 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yuan China melemah 0,05 persen, serta dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,01 persen.

Meski sebagian mata uang Asia melemah, beberapa mata uang lainnya masih mampu bergerak positif terhadap dolar AS.

Penguatan terbesar terjadi pada ringgit Malaysia yang naik 0,08 persen.

Setelah itu, yen Jepang menguat 0,06 persen, baht Thailand naik 0,05 persen, peso Filipina menguat 0,04 persen, dan rupee India naik 0,03 persen.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan terhadap dolar AS dalam jangka pendek.

Menurutnya, peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.

Serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat disebut turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset perlindungan ketika pasar menghadapi ketidakpastian.

"Pergantian kepemimpinan bank sentral dinilai meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan, sehingga mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di aset berdenominasi rupiah," ujar Lukman, Rabu (29/7/2026).

Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan dan berdampak pada nilai tukar rupiah.

Selain faktor eksternal, pasar juga masih mencermati kondisi dalam negeri, terutama setelah adanya pengunduran diri Gubernur BankBank Indonesia.

Pergantian kepemimpinan bank sentral dinilai dapat meningkatkan kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan, terutama terkait penempatan dana pada aset yang menggunakan mata uang rupiah.

Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak melemah pada perdagangan hari ini dengan kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik global, harga komoditas energi, serta sentimen investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia.* (bi/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Menguat ke 6.143,54, Ini Daftar Saham Pilihan Analis Hari Ini
Harga Emas Antam Turun Lagi Hari Ini, Apakah Saatnya Beli?
Perang Timur Tengah Bikin Harga Minyak Fluktuatif, Bahlil Jamin BBM Subsidi Tak Naik
Rupiah Turun ke Rp18.083 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Penting The Fed
Rupiah Kembali Melemah, Tembus Rp18.068 per Dolar AS di Awal Perdagangan
IHSG Menguat ke Level 6.187,  Ini Daftar Saham yang Naik dan Turun
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru