BREAKING NEWS
Kamis, 06 Agustus 2026

Purbaya Ngaku Jadi Menteri Paling Apes, Diserang Demo hingga Rating Turun

Dharma - Kamis, 06 Agustus 2026 11:41 WIB
Purbaya Ngaku Jadi Menteri Paling Apes, Diserang Demo hingga Rating Turun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers dalam taklimat media di Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Foto: ANTARA/Shofi Ayudiana)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku menjadi "menteri paling tidak beruntung" karena harus menghadapi berbagai tekanan besar sejak awal menjabat, mulai dari demonstrasi, penilaian negatif lembaga pemeringkat internasional, hingga konflik geopolitik global. Menurut dia, rangkaian tekanan tersebut datang silih berganti tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk bernapas.

"Pas saya masuk ada demo besar-besaran. Di situ saya betulin, sudah betul terus keluar MSCI. Habis MSCI, keluar Moody's Investors Service. Habis itu Fitch. Habis itu keluar lagi perang Iran-Irak. Jadi kita digonjang terus," ujar Purbaya saat media briefing di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ia mengatakan, selama beberapa bulan terakhir pemerintah terus menghadapi guncangan baru setiap kali berhasil menyelesaikan persoalan sebelumnya.

Baca Juga:

"Jadi enggak pernah santai selama berapa bulan, pusing. Tapi ini selesai, ada lagi serangan. Diberesin, ada lagi serangan terus," katanya.

Purbaya menilai tekanan yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam hampir dua tahun terakhir bukan tekanan yang ringan.

"Jadi pemerintahan zaman ini, zaman setahun terakhir ini, tekanan kita bertubi-tubi dan semuanya besar. Enggak ada yang bisa dianggap enteng," ucap dia.

Meski demikian, Purbaya mengaku sedikit lega setelah lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia dengan outlook stabil. Menurut dia, keputusan tersebut berbeda dengan langkah Moody's dan Fitch yang sebelumnya memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.

"Untung S&P mengeluarkan outlook-nya stabil. Walaupun saya pusing, saya mau usaha yang mana lagi nih, dulu agak bagus enggak dianggap. Ternyata S&P profesional. Itu yang membuat kita agak lega, masih bisa agak bernapas," kata Purbaya.

Saat ditanya tekanan mana yang paling berat, Purbaya menyebut penilaian dari lembaga pemeringkat internasional menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah.

"Mungkin yang kedua, Moody's sama Fitch Ratings," ujar dia.

Sebelumnya, Purbaya juga menegaskan penilaian negatif dari Moody's dan Fitch tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Bahkan Purbaya mengatakan penilaian Moody's Investors Service tidak perlu terlalu dihiraukan karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai sedang membaik dan bergerak lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.

Purbaya menegaskan, penurunan outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan ekonomi secara struktural. Menurutnya, kondisi itu justru menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia telah berbalik arah dan mulai pulih dengan laju yang lebih cepat.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru