BREAKING NEWS
Minggu, 30 Agustus 2026

Rupiah Stagnan Sepekan, Pekan Depan Diramal Fluktuatif di Rp17.600-17.900

Nurul - Minggu, 30 Agustus 2026 11:39 WIB
Rupiah Stagnan Sepekan, Pekan Depan Diramal Fluktuatif di Rp17.600-17.900
ilustrasi - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bergerak stagnan sepanjang sepekan terakhir. (Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bergerak stagnan sepanjang sepekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), rupiah di pasar spot berada di level Rp17.693 per dolar AS.

Mengacu data Bloomberg, posisi tersebut menguat tipis 0,01 persen dibandingkan penutupan Jumat (21/8/2026) yang berada di level Rp17.695 per dolar AS.

Pergerakan serupa terlihat pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. JISDOR pada Jumat (28/8/2026) tercatat Rp17.703 per dolar AS, menguat tipis 0,01 persen dari posisi sepekan sebelumnya sebesar Rp17.705 per dolar AS.

Baca Juga:

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan pekan depan akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah akan dipengaruhi sejumlah faktor dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah sikap pelaku pasar yang cenderung menunggu rilis data inflasi resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).

"Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi," tulis Ibrahim dalam risetnya, Minggu (30/8/2026).

Data inflasi menjadi salah satu indikator penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga. Inflasi yang terkendali dapat memberikan ruang bagi pelonggaran moneter, sedangkan inflasi yang tinggi berpotensi membuat suku bunga bertahan pada level ketat.

Selain inflasi, data perdagangan Juli yang akan dirilis BPS juga menjadi perhatian pasar. Data tersebut dinilai mencerminkan kondisi pasokan, permintaan hingga biaya logistik, khususnya komoditas pangan.

Pelemahan rupiah di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap impor pangan berpotensi membuat biaya impor menjadi lebih mahal.

"Serta melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal," ujar Ibrahim.

Dari faktor eksternal, perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar. Ketegangan tersebut dinilai dapat memengaruhi perdagangan dan perekonomian global.

Pelaku pasar juga mencermati pidato perdana Kevin Warsh yang baru ditetapkan sebagai Ketua Federal Reserve atau The Fed. Pasar mencari sinyal mengenai perkembangan inflasi serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cara Mudah Cek Desil Kesejahteraan Lewat Situs DTSEN BPS dan Aplikasi Cek Bansos
DPR Desak BPS Evaluasi Pemutakhiran Data Desil agar Penyaluran Bansos dan Bantuan Pendidikan Tepat Sasaran
2,4 Juta Lapangan Kerja Dijanjikan Tercipta, Purbaya Akui Belum Cukup Atasi 7,2 Juta Pengangguran
Kandas Tipis di Ujung Pekan! IHSG Gagal Sumringah Akibat Tekanan Berat Sektor Perindustrian
Rupiah Ditutup Menguat 51 Poin ke Rp17.693 per Dolar AS
Demo Mereda Jadi Angin Segar bagi Investor, Rupiah Bangkit ke Rp17.707!
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru