26,6 Juta Orang Keluar dari Kemiskinan, Benarkah Ekonomi Indonesia Makin Sejahtera?
JAKARTA Jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun sejak awal Reformasi. Namun, penurunan tersebut belum membuat persoalan kemisk
EKONOMI
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto terus mendorong program swasembada pangan sebagai salah satu agenda utama pemerintah.
Kebijakan ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kedaulatan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Hampir dua tahun pemerintahan Prabowo berjalan, pemerintah menyebut Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dari produksi nasional untuk delapan komoditas pangan strategis.Baca Juga:
Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Prabowo menyampaikan klaim tersebut dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Pemerintah menargetkan sejumlah komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri dapat mencapai swasembada dalam beberapa tahun mendatang.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan swasembada pangan menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan nasional.
"Swasembada pangan adalah syarat mutlak bagi kedaulatan, kemerdekaan, dan keselamatan (survival) bangsa Indonesia. Pangan juga merupakan elemen mendasar pertahanan negara untuk menghadapi ketidakpastian global, di mana ancaman terbesar suatu bangsa bukan hanya serangan militer, melainkan krisis pangan," ucap Suwandi, Jumat (28/8/2026).
Untuk mengejar target swasembada pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan pembenahan dari sektor hulu hingga hilir.
Kebijakan tersebut mencakup penguatan penyediaan pupuk, benih unggul, pompanisasi, optimalisasi lahan, rehabilitasi irigasi, perluasan areal tanam dan cetak sawah.
Pemerintah juga mendorong modernisasi pertanian melalui penggunaan mesin dan teknologi.
Salah satu pembenahan yang dilakukan adalah sektor pupuk. Pemerintah mengembalikan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton.
Tata kelola penyaluran juga disederhanakan dengan memangkas ratusan regulasi.
Selain itu, harga pupuk bersubsidi diturunkan sebesar 20 persen untuk memperluas akses petani terhadap sarana produksi.
"Intervensi tersebut berjalan bersama dengan penguatan produksi melalui pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, cetak sawah, penyediaan benih unggul, perbaikan irigasi, dan mekanisasi pertanian," jelas Suwandi.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani melalui kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Penyerapan gabah dilakukan langsung oleh Perum Bulog.
Kebijakan tersebut diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani saat musim panen.
"Hasilnya mulai terlihat pada produksi pangan nasional. Pada 2025, produksi padi mencapai sekitar 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara sekitar 34,69 juta ton beras," tutur Suwandi.
Produksi beras tersebut disebut telah melampaui kebutuhan nasional yang berada di kisaran 31 juta ton.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional per Agustus 2026, dari 11 komoditas pangan strategis, delapan di antaranya diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri.
Untuk beras, produksi diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton. Sementara kebutuhan nasional sekitar 31,21 juta ton. Dengan demikian terdapat surplus sekitar 3,56 juta ton.
Jagung diproyeksikan menghasilkan 18 juta ton dengan kebutuhan sekitar 16,60 juta ton. Komoditas ini mencatat surplus sekitar 1,40 juta ton.
Pada komoditas hortikultura, produksi cabai besar diperkirakan mencapai 1,53 juta ton dengan surplus sekitar 592.500 ton.
Cabai rawit mencapai 1,49 juta ton dengan surplus sekitar 583.900 ton.
Produksi bawang merah diperkirakan mencapai 1,30 juta ton atau surplus sekitar 54.400 ton.
Sementara dari sektor peternakan, produksi daging ayam ras diproyeksikan surplus sekitar 862.900 ton dan telur ayam ras surplus sekitar 711.000 ton.
Gula konsumsi juga disebut mengalami surplus sekitar 191.000 ton.
"Artinya, sebagian besar pangan strategis yang menjadi kebutuhan utama masyarakat saat ini telah ditopang oleh produksi dalam negeri, bahkan memiliki surplus," jelas Suwandi.
Menurut pemerintah, kondisi tersebut menunjukkan kemampuan produksi pangan nasional semakin kuat.
Selain memenuhi kebutuhan masyarakat, produksi dalam negeri juga dinilai mampu menyediakan cadangan untuk menjaga stabilitas pasokan.
Meski delapan komoditas disebut telah mampu memenuhi kebutuhan nasional, masih ada tiga komoditas pangan strategis yang produksinya belum mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Ketiga komoditas tersebut adalah kedelai, bawang putih, serta daging sapi atau kerbau.
Produksi kedelai dalam negeri diperkirakan hanya sekitar 206.000 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 2,47 juta ton.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan kedelai Indonesia masih banyak bergantung pada impor.
Rendahnya produksi kedelai antara lain dipengaruhi keterbatasan luas tanam, produktivitas yang rendah, daya saing usaha tani, serta tingginya kebutuhan industri tahu dan tempe.
Bawang putih juga masih mengalami defisit. Produksi domestik diperkirakan hanya sekitar 23.800 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 715.900 ton.
Sementara produksi daging sapi atau kerbau diperkirakan mencapai 610.900 ton.
Angka tersebut masih di bawah kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 781.300 ton. Artinya terdapat defisit sekitar 170.300 ton.
Meski demikian, produksi daging sapi dalam negeri disebut sudah mampu memenuhi sekitar 78,2 persen kebutuhan nasional.
Pemerintah menargetkan komoditas daging sapi dan kerbau dapat mencapai swasembada dalam lima tahun ke depan.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar menilai Indonesia sudah dapat disebut mencapai swasembada pangan jika mengacu pada kemampuan produksi terhadap kebutuhan konsumsi.
"Hal ini dapat dilihat dari produksi pangan yang melebihi kebutuhan atau konsumsi pangan. Kita dapat mengatakan swasembada manakala data produksi dan konsumsi yang dirujuk pemerintah memang akurat," ucap Hermanto, Senin (31/8/2026).
Menurut Hermanto, sejumlah komoditas vital seperti beras, daging ayam, dan telur ayam telah mencapai kondisi swasembada.
Namun, sejumlah komoditas lain masih membutuhkan pasokan dari luar negeri, seperti daging sapi, susu, gula pasir, dan kedelai yang menjadi bahan baku utama tempe serta tahu.
Hermanto menilai ketergantungan terhadap impor tidak secara otomatis menunjukkan lemahnya ketahanan pangan suatu negara.
"Meskipun impor, namun apabila rumah tangga memiliki dayabeli memadai untuk membelinya di setiap waktu, maka kita memiliki ketahanan pangan," tutur dia.
Ia mencontohkan Singapura yang sebagian besar kebutuhan pangannya masih berasal dari impor.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat ketahanan pangan Singapura lemah karena negara tersebut memiliki daya beli tinggi dan mampu memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakatnya.
Dengan demikian, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya mempertahankan surplus delapan komoditas pangan, tetapi juga meningkatkan produksi komoditas yang masih mengalami defisit.
Keberlanjutan produksi, kesejahteraan petani, stabilitas harga, dan kemampuan masyarakat membeli pangan menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.* (km/ad)
JAKARTA Jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun sejak awal Reformasi. Namun, penurunan tersebut belum membuat persoalan kemisk
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto terus mendorong program swasembada pangan sebagai salah satu agenda utama pemerintah. Kebijakan ini di
EKONOMI
KARO Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memastikan kebutuhan dasar warga terdampak erupsi Gunung Sinabung terpenuhi se
PEMERINTAHAN
MEDAN Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menginstruksikan percepatan evakuasi warga yang berada di wilayah zona bahaya
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak peserta event Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke4 menikmati beragam kuliner khas Ko
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Medan mengubah pola pembiayaan bagi
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung. Upaya tersebut dil
KESEHATAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong PT Kawasan Industri Medan (KIM) Persero memperkuat daya tarik investasi dengan
PEMERINTAHAN
BATU BARA Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Labuhan Ruku terus memperkuat komitmennya dalam memenuhi hakhak hukum Warga Binaan P
NASIONAL
BATU BARA Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Labuhan Ruku terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan terba
NASIONAL