BREAKING NEWS
Minggu, 06 September 2026

Kurir Online Tunadaksa di Medan Kaget Masuk Desil 6-10: Motor Pinjaman, Tinggal Menumpang

Administrator - Jumat, 04 September 2026 19:55 WIB
Kurir Online Tunadaksa di Medan Kaget Masuk Desil 6-10: Motor Pinjaman, Tinggal Menumpang
Ilustrasi - Seorang kurir online penyandang tunadaksa. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN — Seorang kurir online penyandang tunadaksa, Iqbal Marqori (32), mengaku terkejut setelah mengecek status kesejahteraannya melalui portal Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Iqbal tercatat masuk dalam kategori desil 6-10. Kondisi tersebut membuatnya bingung karena ia merasa tidak memiliki aset dan penghasilan yang besar.

Iqbal bahkan mengaku saat ini tinggal menumpang di rumah kontrakan milik adik iparnya.

Baca Juga:

Sepeda motor yang digunakannya untuk bekerja sebagai kurir online juga bukan miliknya, melainkan milik adiknya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan warga yang merasa datanya tidak sesuai dapat mengajukan banding sekaligus melakukan pemutakhiran data.

"Kalau yang bersangkutan merasa butuh bantuan, dia harus melakukan pemutakhiran data. Klaster bantuan pemerintah itu kan beragam, misalnya bantuan pangan untuk desil 1–4 dan yang lainnya," ujar Asim, Jumat (4/9/2026).

Asim mengatakan BPS terus mendorong masyarakat di Sumatera Utara agar aktif memperbarui data dalam DTSEN.

Menurut dia, data akan sulit berubah apabila masyarakat tidak bersedia mengikuti proses pendataan dan pemutakhiran yang dilakukan petugas.

"Terimalah petugas BPS yang datang melakukan pemutakhiran data. Semakin menghindar, datanya tidak akan pernah masuk ke dalam peta perlindungan sosial," lanjutnya.

Untuk mengajukan banding, warga perlu menyertakan bukti pendukung.

Salah satunya Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang ditandatangani lurah atau kepala desa.

Asim menjelaskan, peringkat desil tidak semata-mata menentukan seseorang kaya atau miskin berdasarkan jumlah pendapatan.

"Pemeringkatan desil ini sebenarnya pemeringkatan kesejahteraan secara relatif, jadi tidak bisa membandingkan antarwilayah. Desil bukan ukuran absolut kaya atau miskin, melainkan diperingkatkan secara relatif dengan sekitar 41 variabel menggunakan metode statistik yang sangat rigid," jelas Asim.

Asim menjelaskan, desil merupakan pemeringkatan tingkat kesejahteraan masyarakat dari kelompok paling bawah hingga paling atas.

Pengelompokan tersebut dibagi dalam 10 persen.

"Desil 1 10 persen terbawah, desil 2 itu 10 persen di atasnya, dan seterusnya. Ukurannya bukan semata-mata pendapatan atau pengeluaran, melainkan rangkuman data dari sekitar 18 kementerian atau lembaga yang terlibat sesuai regulasi. Desil akan selalu bergerak dinamis sesuai perkembangan pemutakhiran data," ucapnya.

Karena itu, menurut Asim, masyarakat yang merasa kondisi ekonominya tidak sesuai dengan data DTSEN perlu mengikuti proses pemutakhiran agar data yang tercatat dapat diperbarui.

Iqbal sebelumnya mengaku kaget setelah mengetahui dirinya masuk kategori desil 6-10.

Ia mempertanyakan hasil pemeringkatan tersebut karena merasa tidak memiliki kondisi ekonomi seperti masyarakat yang tergolong sejahtera.

"Pas cek, saya kaget masuk desil tinggi. Saya desil 6-10. Wih, ini desilnya desil orang kaya. Pantas saya tidak pernah dapat (sembako) gitu kan. Tidak pernah dapat apa pun saya. Beras saja tidak," ujar Iqbal.

Iqbal mengatakan dirinya pernah beberapa kali menerima bantuan sembako ketika masih tinggal di Padang, Sumatera Barat.

Bantuan tersebut diberikan Dinas Sosial karena ia merupakan penyandang disabilitas.

Namun, bantuan itu sudah lama tidak diterimanya. Setelah tinggal di Medan, Iqbal mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

"Di Medan belum ada sama sekali bantuan dari pemerintah. Saya dapat bantuan malah beberapa kali dari warga yang baik. Saat saya lagi kerja narik, dikasih kadang beras. Dikasih pula saya kadang tip dari customer. Itu sajalah yang bisa saya bawa pulang. Selain itu tidak ada bantuan apa pun," bebernya.

Iqbal mengaku tidak memiliki aset yang menurutnya dapat membuat dirinya masuk dalam kategori desil tinggi.

Sepeda motor yang digunakan untuk bekerja sebagai kurir online merupakan milik adiknya.

Sementara di portal DTSEN, ia tidak tercatat sebagai penerima bantuan pangan.

Penghasilannya sebagai kurir juga tidak menentu.

Dalam sehari, Iqbal mengaku bisa hanya mendapatkan sekitar Rp50 ribu, bahkan terkadang tidak memperoleh laba bersih.

"Bingung saya makanya, di kampung saja saya tidak ada apa-apa. Tinggal saja saya menumpang. Kalau di Padang dulu saya juga tinggal di rumah nenek. Kalau di Medan ini, saya mengontrak sama adik," perinci pria 32 tahun itu.

Meski kondisi ekonominya terbatas, Iqbal tetap memilih bekerja sebagai kurir online.

Ia mengatakan tidak pernah berpikir untuk mengemis demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kini, Iqbal tengah berusaha mengumpulkan modal untuk membuka usaha kecil berupa kedai kelontong.

Ia berharap penghasilannya sebagai kurir dapat membantu mewujudkan rencana tersebut.

"Saya sedang mengumpuli modal karena saya ingin jualan saja, buka kedai kelontong. Karena kalau terus jadi kurir seperti ini, berbahaya juga di jalan, sering jatuh. Siapa tahu dengan jadi kurir online saat ini saya bisa kumpulkan rezeki untuk bisa buka usaha," harapnya.* (km/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Korupsi Smartboard Langkat, Dirut PT Bismacindo Perkasa Dituntut 13 Tahun dan Uang Pengganti Rp26 Miliar
Tak Mau Cuma Jadi Tuan Rumah, Sumut Manfaatkan Forum IMT-GT ke-32 untuk Genjot Promosi Pariwisata
Erupsi Gunung Sinabung Berdampak ke 1.832 Hektare Lahan Pertanian Karo, Ini Komoditas yang Terdampak
Wali Kota Tanjungbalai Apresiasi Transformasi HKBP, Dorong Penguatan Iman di Tengah Keluarga
Pemko Tanjungbalai Dukung Reforma Agraria, Dorong Penataan Lahan yang Adil dan Berkelanjutan
Wali Kota Tanjungbalai Letakkan Batu Pertama Rehabilitasi RSUD dr Tengku Mansyur Senilai Rp4,77 Miliar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru