JAKARTA – Aktivis media sosial Ferry Irwandi buka suara soal dampak serius dari sikap kritisnya dalam menyuarakan berbagai isu sosial.
Dalam sebuah perbincangan panas di podcast Curhat Bang! yang dipandu Denny Sumargo, Sabtu (20/9/2025), Ferry menuding dirinya menjadi korban framing dan disinformasi yang masif di media sosial.Dalam episode yang juga menghadirkan pegiat media sosial Gusti Ayu Dewanti, Ferry secara langsung menyinggung nama Gusti Ayu sebagai salah satu pihak yang dianggap telah menyebarkan konten menyesatkan tentang dirinya.
Salah satu kasus yang diangkat Ferry adalah unggahan poster kampanye dari KontraS bertuliskan "Mereka Bukan Hilang, Tapi Dihilangkan!". Poster tersebut sebelumnya ia bagikan melalui fitur Instagram Story, namun kemudian diunggah ulang oleh Gusti Ayu tanpa mencantumkan konteks utuh.
"Yang dihilangkan dalam postingan ini, satu: status 'template', dua: keterangan 'add yours'," jelas Ferry sambil menunjukkan perbandingan antara unggahan asli dan versi yang dibagikan Gusti Ayu.Menurut Ferry, penghilangan dua elemen penting tersebut secara tidak langsung menciptakan persepsi publik bahwa ia sendiri yang membuat dan menginisiasi konten itu.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk framing yang merugikan secara personal maupun reputasi.Tak berhenti di situ, Ferry menyebut telah menemukan sedikitnya 24 unggahan yang dinilainya bermuatan manipulatif terhadap dirinya dalam kurun waktu kurang dari sebulan.
"24 postingan, 25 sekarang, dalam 20 hari," keluh Ferry saat menjelaskan rentetan narasi yang menyudutkannya di berbagai platform digital.Ferry menegaskan, semua ini bermula dari keberaniannya menyuarakan keresahan terhadap ketidakadilan sosial dan pelanggaran hak asasi manusia.
Ia menilai, respons berlebihan dari sejumlah pihak menunjukkan adanya upaya sistematis untuk membungkam kritik di ruang publik.Dalam podcast tersebut, Denny Sumargo juga sempat memfasilitasi perdebatan antara Ferry dan Gusti Ayu guna mendalami duduk persoalan.
Meski berlangsung panas, keduanya tetap berusaha menyampaikan perspektif masing-masing secara terbuka.Kasus yang dialami Ferry Irwandi kembali menyoroti persoalan serius soal framing, out of context sharing, dan disinformasi di era digital.
Meski kebebasan berekspresi dijamin konstitusi, manipulasi konten di media sosial kerap menjadi alat untuk membentuk opini publik secara keliru.Dalam konteks ini, para pegiat media sosial, termasuk influencer, diharapkan lebih berhati-hati dalam membagikan ulang konten, terutama yang berkaitan dengan isu sensitif atau figur publik.
Ferry menutup pernyataannya dengan menyerukan pentingnya etika digital dan literasi media, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial."Kalau kita mau bicara keadilan, ya harus adil juga dalam menyebarkan informasi. Jangan potong separuh, lalu lempar ke publik," pungkasnya.*