Dokter Lia mengaku sangat kecewa dengan perlakuan kasar para pelaku.
Ia menyebut bahwa mobil tersebut hanya dititipkan kepadanya oleh teman orang tuanya yang telah meninggal.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, mobil itu telah lunas.
"Mereka mengaku-ngaku itu mobil mereka. Kami tidak tahu-menahu. Saat itu saya cuma jemput anak, kebetulan pakai mobil itu," kata Lia.
Ia juga menyesalkan bahwa tindakan para pelaku berdampak pada kondisi psikologis anaknya yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
"Kalau memang mau ambil mobilnya, kita bisa bicara baik-baik. Tapi ini langsung disergap, anak saya sampai trauma. Saya dokter, terpaksa tinggalkan praktik, suami juga begitu," pungkasnya.
Kapolrestabes Medan menegaskan bahwa tindakan para pelaku merupakan bentuk premanisme dan tidak boleh dibiarkan.
"Ini cara-cara kekerasan yang tidak boleh terjadi di ruang publik. Kami akan terus kejar para pelaku lainnya," tegas Gidion.*