Pura-Pura Ahli, Hacker Bjorka Ternyata Otodidak dan Tak Tamat SMK
- Jumat, 03 Oktober 2025 12:01 WIB
Pemuda asal Kecamatan Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara,
WFT (22) yang diduga kuat sebagai sosok di balik nama hacker kontroversial Bjorka (FOTO : canva/bitv)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
MINAHASA - Kepolisian berhasil mengungkap identitas seorang pemuda berinisial WFT (22) yang diduga kuat sebagai sosok di balik nama hacker kontroversial Bjorka. Pemuda asal Kecamatan Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, itu ditangkap Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya akhir September lalu.
Penangkapan ini dilakukan setelah adanya laporan dari sebuah bank swasta yang mengaku menjadi korban pembobolan data jutaan nasabahnya.
"WFT bukan lulusan SMK, bukan sarjana IT, tapi mempelajari komputer secara otodidak dari komunitas online," ungkap AKBP Fian Yunus, Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya.
Dalam penyelidikan lebih lanjut, polisi menemukan WFT menggunakan berbagai nama samaran di forum gelap seperti Bjorka, SkyWave, Shint Hunter, dan Oposite6890. Aktivitas sibernya mulai terdeteksi sejak Desember 2024, dan ia diduga melakukan semua aksinya sendiri tanpa bantuan pihak lain.
Diketahui, WFT menjual data pribadi pengguna Indonesia di sejumlah forum dark web dan bahkan menggunakan media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram untuk menjajakan data tersebut. Transaksinya dilakukan dalam mata uang kripto.
"Sekali transaksi bisa bernilai puluhan juta rupiah, tergantung jenis data dan permintaan pembeli di dark web," jelas Fian.
Motif Uang dan Pemerasan
Polisi menyebut motif utama WFT adalah uang. Kasus ini mulai mencuat pada Februari 2025, ketika akun @bjorkanesiaa merilis database yang berisi 4,9 juta data nasabah milik sebuah bank. Dalam unggahan itu, WFT juga mengirimkan pesan pemerasan ke pihak bank, meski rencana tersebut gagal karena cepat dilaporkan.
"Motif pelaku adalah pemerasan. Tapi sebelum berhasil, kami sudah bergerak lebih dulu," ujar AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon, Kasubdit IV Siber Polda Metro Jaya.
Kini, penyidik tengah mendalami jumlah keuntungan yang telah diperoleh WFT dari penjualan data tersebut dan menelusuri apakah ada jaringan lain yang terlibat.