Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
SEMARANG - Bupati nonaktif Pekalongan Fadia Arafiq mengaku kondisi keuangannya justru mengalami minus setelah menjabat sebagai kepala daerah. Dia juga menyebut memiliki utang dan menegaskan kekayaan yang dimilikinya sudah ada sebelum menjadi bupati.
Pernyataan itu disampaikan Fadia dalam pembelaannya di persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa serta gratifikasi di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (3/9/2026).
Fadia mengatakan dirinya tidak menjadi bupati untuk mencari keuntungan. Menurutnya, jabatan tersebut dijalani sebagai bentuk pengabdian kepada Kabupaten Pekalongan.
Baca Juga:
"Saya jadi bupati ini ada pengabdian, cinta saya kepada Pekalongan, bukan karena mencari uang," kata Fadia dalam persidangan, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Selain terjun ke dunia politik, Fadia mengatakan dirinya telah memiliki usaha dan berprofesi sebagai penyanyi sebelum menjabat sebagai bupati. Dia menyebut sejumlah bisnis tersebut tetap berjalan ketika dirinya memimpin Kabupaten Pekalongan.
"Saya ingin menjelaskan bahwa uang saya itu sudah banyak sebelum saya jadi bupati," ujarnya.
Salah satu aset usaha yang disebut Fadia adalah kolam renang di Pekalongan yang menurut pengakuannya telah dibeli sekitar 2013.
Dalam persidangan, sejumlah saksi meringankan juga memberikan keterangan mengenai sumber penghasilan dan aset keluarga Fadia.
Salah satunya Tri Awal, konsultan keuangan, yang menyebut total uang dalam sejumlah rekening Fadia dan suaminya mencapai sekitar Rp54,58 miliar pada 26 Juni 2020. Nilai tersebut disebut belum termasuk surat berharga.
Keterangan mengenai bisnis keluarga Fadia juga disampaikan Ismawan, karyawan toko yang menjadi saksi meringankan. Dia mengaku telah membantu mengurus bisnis keluarga Fadia di pusat grosir Tanah Abang, Jakarta, sejak 2015.
Menurut Ismawan, keluarga Fadia saat itu memiliki sekitar 15 toko di pusat perdagangan tekstil tersebut. Pengelolaan keuangan dan penarikan uang dilakukan melalui pihak internal keluarga.
"Kita masih punya 15 toko waktu itu," kata Ismawan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.