Pihak Organisasi Energi Atom Iran juga memastikan tak ada kebocoran bahan radioaktif yang terjadi.
Bahkan, uranium yang sebelumnya disimpan di Fordow dilaporkan telah lebih dulu dipindahkan.
Markas Besar Manajemen Krisis Provinsi Qom juga menegaskan bahwa "tidak ada ancaman terhadap warga sipil" dan kondisi saat ini stabil.
Peneliti senior dari Pusat Studi Strategis Timur Tengah di Teheran, Abas Aslani, menyebut Iran memiliki tiga opsi balasan:
1. Reaksi terbatas – tergantung pada tingkat kerusakan.
2. Perang skala penuh – dengan kemungkinan menyerang situs nuklir Israel dan kepentingan AS.
3. Kombinasi taktis – seperti menutup Selat Hormuz untuk mengganggu jalur energi dunia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras aksi AS.
"Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Setiap anggota PBB harus waspada," tegas Araghchi.
Dalam pidato yang sama, Trump memberi ultimatum kepada Iran: berdamai atau menghadapi "tragedi lebih besar".
Ia menekankan bahwa operasi militer berikutnya bisa dilakukan secara presisi, cepat, dan "dalam hitungan menit."
"Masih banyak target tersisa. Ini bisa berakhir dengan damai, atau jadi malapetaka bagi Iran," ujar Trump.
Konflik ini diprediksi akan memicu ketegangan baru di kawasan, memperbesar risiko perang terbuka antara dua negara yang memiliki pengaruh besar di Timur Tengah.*