BREAKING NEWS
Kamis, 12 Maret 2026

Perang Thailand-Kamboja Meluas ke Media Sosial: Dari Baku Tembak ke Perang Hashtag

- Sabtu, 26 Juli 2025 09:31 WIB
Perang Thailand-Kamboja Meluas ke Media Sosial: Dari Baku Tembak ke Perang Hashtag
ilustrasi smartphone (foto: ai/bitv)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

PNOM PENH - Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang menewaskan 16 orang minggu ini, tidak hanya berkecamuk di perbatasan. Pertempuran kini meluas ke medan digital, di mana netizen dari kedua negara saling menyerang dalam perang tagar yang sarat dengan nasionalisme dan propaganda.

Dua tagar utama yang menjadi medan pertempuran digital adalah #CambodiaOpenedFire dan #ThailandFiredFirst, yang menunjukkan polarisasi ekstrem dalam narasi masing-masing negara.

Bentrok bersenjata yang terjadi pada Kamis (24/7/2025) menjadi pemantik kemarahan publik di media sosial. Tak sedikit komentar penuh amarah menghiasi TikTok, X, dan Facebook. Beberapa unggahan bahkan menuduh pihak lawan sebagai agresor, penipu, hingga pencuri budaya.

"Keadilan untuk Kamboja. Pasukan Thailand yang mulai duluan," tulis seorang pengguna TikTok asal Phnom Penh.

"Siapa yang percaya negara penipu online terbesar?" balas netizen asal Bangkok, merujuk pada reputasi Kamboja dalam sindikat scam daring.

Unggahan semacam itu telah ditonton jutaan kali, membuktikan bahwa konflik ini tidak hanya milik elite politik atau militer, tetapi juga menjadi bahan bakar bagi nasionalisme digital generasi muda.

Ketegangan Thailand-Kamboja bukanlah hal baru. Perseteruan atas Kuil Preah Vihear dan Ta Moan Thom telah lama menjadi simbol konflik identitas nasional. Tahun 2008, Kamboja berhasil mendaftarkan Preah Vihear sebagai situs warisan dunia UNESCO, memicu protes besar di Thailand.

Konflik budaya juga meluas ke ajang olahraga. Saat SEA Games 2023, atlet Thailand memboikot pertandingan bela diri karena Kamboja menyebutnya "Kun Khmer" bukan "Muay Thai", menuduh Kamboja melakukan plagiarisme budaya.

Kini, ketegangan berulang lewat nominasi budaya pernikahan tradisional Khmer ke UNESCO yang dikritik publik Thailand sebagai peniruan pakaian adat Siam. Tagar seperti #Claimbodia dan #PencuriSiam pun trending di kedua negara.

Media sosial kini menjadi panggung utama bagi hasutan dan sentimen negatif. Dalam sebuah video viral, seorang warga Thailand menampar pekerja migran asal Kamboja dan memaksanya berbicara dalam bahasa Khmer sebagai bentuk penghinaan.

"Ini sudah bukan perang informasi lagi, tapi perang kebencian," ujar Wilaiwan Jongwilaikasaem, dosen jurnalisme di Universitas Thammasat.

Asosiasi Jurnalis Thailand dan Kamboja pun mengeluarkan pernyataan bersama yang mengingatkan pentingnya verifikasi informasi dan penghentian penyebaran konten provokatif.

Perseteruan juga merambah ke level elite. Thaksin Shinawatra, mantan PM Thailand, menyatakan menolak menjadi mediator konflik dan menyindir Hun Sen sebagai "licik".

Tak tinggal diam, Hun Sen membalas melalui akun X dengan tuduhan bahwa Thaksin telah mengkhianati raja dan partainya.

Puncaknya adalah kebocoran rekaman telepon antara Thaksin dan putrinya Paetongtarn Shinawatra—saat itu menjabat PM Thailand—yang memanggil Hun Sen "paman" dan mengkritik jenderal Thailand. Bocoran itu memicu skandal besar hingga Paetongtarn dicopot dari jabatannya.

Para analis melihat ini sebagai manuver politik Hun Sen untuk mengalihkan isu dalam negeri dan memperkuat kekuasaan dinasti politiknya di Kamboja.

Meski Kamboja telah menyerukan gencatan senjata, tak ada tanda bahwa konflik akan reda, setidaknya di dunia maya.

Perang digital ini bukan sekadar respons emosional, melainkan cerminan dari persaingan identitas dan kebangsaan yang telah membara sejak lama.

Di era di mana ponsel menjadi senjata, nasionalisme digital terbukti mampu menyalakan api yang sama panasnya dengan peluru di perbatasan.*

(bs/j006)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru