Tergiur Upah Rp 20 Juta, Remaja di Medan Nekat Jadi Kurir Ribuan Pil Ekstasi Asal Malaysia
MEDAN Roby Ferdinanta (20) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan setelah didakwa menjadi kurir 4.816 butir pil ekstasi dan r
HUKUM DAN KRIMINAL
THAILAND - Ketegangan antara Thailand dan Kamboja di kawasan perbatasan memicu kekhawatiran dunia internasional, tidak hanya dari sisi keamanan tetapi juga potensi dampaknya terhadap perekonomian Asia Tenggara.
Di balik situasi panas tersebut, menarik untuk meninjau dan membandingkan kekuatan ekonomi dua negara bertetangga ini.
Dari sisi nominal ekonomi, Thailand masih menjadi salah satu kekuatan utama di ASEAN. Berdasarkan data tahun 2023, Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand tercatat sebesar USD514,8 miliar, dengan PDB per kapita mencapai USD7.171.
Sementara itu, Kamboja memiliki PDB sekitar USD46,4 miliar, dengan PDB per kapita USD2.628 di awal 2024. Meski lebih kecil, Kamboja justru mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif, yaitu 5,4% pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh antara 5,3%–6,0% hingga 2025. Bandingkan dengan Thailand yang hanya tumbuh 1,9% pada 2023 dan diprediksi stagnan di kisaran 1,6%–2,8%.
Ekonomi Thailand dikenal lebih terdiversifikasi, dengan kekuatan di sektor manufaktur, ekspor, dan pariwisata yang masing-masing berkontribusi besar terhadap pertumbuhan nasional. Pariwisata bahkan menyumbang lebih dari 12% PDB Thailand.
Sebaliknya, Kamboja masih mengandalkan industri padat karya seperti garmen dan alas kaki, serta sektor pertanian dan pariwisata. Ini membuat ekonomi Kamboja lebih rentan terhadap guncangan global atau regional.
Thailand juga unggul dalam hal Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pendidikan, dan kesehatan. Negara ini memiliki infrastruktur sosial yang lebih baik dan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dibandingkan Kamboja, yang masih tergolong sebagai negara berpendapatan menengah bawah dengan tantangan besar dalam kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur dasar.
Risiko Ketegangan Militer Terhadap Ekonomi
Ketegangan militer yang terjadi saat ini berpotensi mengganggu kestabilan kawasan. Thailand bisa mengalami gangguan pada rantai pasok manufakturnya, sementara Kamboja berisiko kehilangan kepercayaan investor asing yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonominya.
Indonesia bahkan menyatakan keprihatinan karena ketegangan ini dapat memicu gangguan pada rantai pasok otomotif dan elektronik ASEAN yang saling terintegrasi.
Secara keseluruhan, Thailand masih memimpin dalam hal kekuatan ekonomi, kesejahteraan, dan daya saing. Namun, Kamboja mencatat pertumbuhan yang lebih cepat dan berpotensi menjadi pesaing kuat di masa depan jika reformasi ekonomi dan infrastruktur terus berjalan.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik tetap menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Asia Tenggara. *
MEDAN Roby Ferdinanta (20) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan setelah didakwa menjadi kurir 4.816 butir pil ekstasi dan r
HUKUM DAN KRIMINAL
PATI Sebanyak 230 siswa di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami kerac
KESEHATAN
MEDAN Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap mendorong Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menjadi garda terdepan dalam memperkuat
PEMERINTAHAN
BANTEN Lima jurnalis hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda. Ikatan Media Online (IMO) Indo
NASIONAL
MEDAN Kafilah Kota Medan kembali meraih Juara Umum Musabaqah Tilawatil Qur&039an (MTQ) ke40 Tingkat Provinsi Sumatera Utara (Sumut) 202
PEMERINTAHAN
MEDAN Penyelenggaraan Pertemuan Tingkat Menteri IndonesiaMalaysiaThailand Growth Triangle (IMTGT) ke32 di Kota Medan mendapat apresias
PEMERINTAHAN
MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menyiapkan anggaran Rp67,5 miliar untuk membantu pembangunan dan renovasi 250 rum
PEMERINTAHAN
MEDAN Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengapresiasi inisiatif Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution
PEMERINTAHAN
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengusulkan empat skema kerja sama untuk menyatukan potensi ekonomi 10
EKONOMI
MEDAN Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengapresiasi inisiatif Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution
PEMERINTAHAN