LONDON - Sebuah langkah bersejarah tercatat pada Minggu (21/9/2025), ketika Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal resmi mengakui negara Palestina.
Keputusan ini dinilai sebagai titik balik dalam kebijakan luar negeri Barat setelah puluhan tahun bersikap hati-hati terhadap isu tersebut.Langkah ini memberikan dorongan baru bagi tercapainya solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza.
Negara-negara lain, termasuk Prancis, disebut-sebut akan mengikuti jejak serupa dalam pertemuan Majelis Umum PBB yang dibuka pada Senin. Namun, jalan menuju kenegaraan Palestina penuh tantangan, terutama menghadapi penolakan keras Amerika Serikat, sekutu utama Israel.Arti Pengakuan Palestina
Menurut Konvensi Montevideo, syarat kenegaraan mencakup populasi permanen, wilayah yang jelas, pemerintahan, serta kapasitas menjalin hubungan internasional. Palestina masih menghadapi kendala, terutama soal wilayah dan otoritas, karena Tepi Barat dikuasai Otoritas Palestina sementara Gaza berada di bawah kendali Hamas sejak 2007.Meski demikian, para pakar hukum internasional menegaskan pengakuan negara tidak serta-merta menciptakan negara, tetapi ketiadaan pengakuan juga tidak menghalangi terbentuknya kenegaraan.
Signifikansi Keputusan InggrisKeputusan Inggris menjadi sorotan khusus karena peran historisnya dalam pembentukan Israel modern pasca-Perang Dunia II. Pengamat menilai pengakuan ini berpotensi memperdalam isolasi diplomatik Israel sekaligus membuka peluang baru bagi Palestina di panggung internasional.
"Ini adalah kemenangan simbolis sekaligus politik bagi Palestina," kata Dr. Burcu Ozcelik, pakar Timur Tengah di Royal United Services Institute, yang menilai langkah ini dapat mencegah upaya pemindahan paksa warga Palestina.Penolakan Israel dan Hambatan AS
Namun, realitas di lapangan kemungkinan tidak banyak berubah dalam waktu dekat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan penolakannya terhadap negara Palestina, bahkan berjanji memperluas permukiman Yahudi di Tepi Barat.Tanpa dukungan Amerika Serikat, pengamat menilai kemajuan konkret menuju solusi dua negara masih jauh dari kenyataan. Meski begitu, deklarasi pengakuan ini memberikan secercah harapan bagi rakyat Palestina yang telah lama hidup dalam konflik berkepanjangan.*