IRAN — Situasi di Selat Hormuz kian mencekam setelah sebuah kapal tanker minyak dilaporkan tenggelam akibat ditembak saat melintasi perairan strategis tersebut pada Minggu (1/3/2026).
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan tinggi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang memuncak menyusul serangan gabungan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026).
Laporan awal disiarkan televisi pemerintah Iran, yang menegaskan bahwa kapal tersebut kini telah tenggelam setelah dihantam peluru saat mencoba melewati jalur secara ilegal.
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Pada titik tersempitnya, lebar selat hanya 33 kilometer, dengan jalur pelayaran sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah, menjadikan lalu lintas padat dan sangat rentan.
Posisi Iran di pantai utara memberi Teheran kendali signifikan atas jalur-jalur ekspor minyak dan gas.
Setiap gangguan dapat memengaruhi ekspor energi dari negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, serta ekspor LNG dari Qatar.
Menurut data Vortexa, sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melewati Selat Hormuz setiap hari, dengan 82 persen ditujukan ke konsumen di Asia.
Insiden penembakan dan tenggelamnya kapal tanker di Selat Hormuz diperkirakan akan menimbulkan gejolak harga energi global.
Pasar internasional kini menyoroti ketegangan yang meningkat dan potensi gangguan pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sementara itu, komunitas internasional menunggu konfirmasi identitas kapal dan langkah-langkah diplomatik yang akan diambil oleh negara-negara terkait untuk menstabilkan situasi.*
(sr/ad)
Editor
: Adam
Selat Hormuz Kembali Panas! Kapal Tanker Dihantam Peluru, Pasokan Energi Dunia Terancam