TEHERAN– Ketegangan global meningkat tajam setelah laporan intelijen mengungkap dugaan keterlibatan Rusia secara tidak langsung dalam konflikIran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Menurut pejabat Amerika yang dikutip oleh The Washington Post, Moskow disebut memberikan informasi lokasi aset militer AS kepada Teheran, termasuk kapal perang dan pesawat tempur di Timur Tengah.
Langkah ini memicu peringatan dari pakar Inggris, Professor Anthony Glees, yang menyebut konflik ini sebagai tanda awal Perang Dunia III.
Glees menyoroti tiga indikator utama: perang pilihan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran, pola pikir agresif para pemimpin, serta komitmen Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan konflik.
"Perang pilihan terhadap satu negara bisa memicu konflik global," ujar Glees kepada The Mirror.
Menurutnya, keputusan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menyerang Iran menunjukkan sikap yang tidak peduli terhadap hukum internasional, dengan mengutamakan kekuatan militer daripada diplomasi.
Sejak serangan skala besar pada Sabtu lalu, Iran telah meluncurkan ribuan drone dan ratusan rudal ke pangkalan AS, fasilitas diplomatik, serta beberapa kota di Israel.
Balasan AS dan Israel dilaporkan menghancurkan lebih dari 2.000 target di Iran, termasuk situs militer dan fasilitas strategis.
Selain Rusia, laporan CNN menyebut China kemungkinan menyediakan dukungan logistik berupa suku cadang dan komponen rudal ke Iran, meski Beijing secara hati-hati menghindari keterlibatan langsung.
China tetap mendorong Teheran menjaga jalur pelayaran Selat Hormuz tetap aman untuk pengiriman minyak mentah.
Sejak eskalasi konflik, lebih dari enam tentara AS tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan drone Iran di Kuwait.
Pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, juga menjadi korban serangan.
Menurut Glees, perang pilihan yang dimulai Trump dan Netanyahu dapat memicu negara-negara lain mengambil peluang untuk ekspansi atau balasan, termasuk Rusia di Eropa Timur, China di Asia Timur, serta Korea Utara di kawasan.
"Konflik ini berpotensi meledak menjadi Perang Dunia karena pola pikir para pemimpin yang melepaskan perang konvensional dapat memicu efek domino global," jelasnya.
Para analis menilai perkembangan ini memperlihatkan risiko serius eskalasi militer internasional, dengan dampak terhadap keamanan energi global dan stabilitas politik di Timur Tengah.
Hingga saat ini, Kremlin menolak berkomentar terkait tuduhan keterlibatan Rusia, sementara CIA juga menolak memberikan penjelasan lebih lanjut.*