Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Ini bukan soal dukungan dalam brainstorming atau riset, ini menyangkut inti dari pekerjaan jurnalistik," kata Katzenberger kepada DW.
Ia menjelaskan bahwa pembaca berlangganan media karena percaya pada keahlian dan tanggung jawab penulis.
Jika AI digunakan tanpa transparansi, hal itu berpotensi dianggap sebagai bentuk penyesatan.
"Jika artikel opini dihasilkan oleh AI tanpa pengungkapan mengenai penggunaannya, publik sangat mungkin memandangnya sebagai bentuk penipuan."
Katzenberger juga menilai penggunaan AI dalam artikel opini dapat berdampak lebih luas terhadap proses demokrasi karena opini publik ikut dibentuk oleh tulisan tersebut.
"Artikel opini memberi kita orientasi dalam dunia yang semakin kompleks dan membantu kita membentuk opini sendiri. Jika artikel opini dihasilkan oleh AI, hal itu secara langsung mengintervensi proses pembentukan opini publik."
Ia menambahkan bahwa AI tidak memiliki nilai, tanggung jawab, maupun posisi politik, sehingga penggunaannya dalam opini publik perlu diatur secara ketat.
Meski demikian, ia menilai kasus ini juga membuka peluang perbaikan dalam sistem kerja redaksi.
Baik Tagesspiegel maupun FAZ menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas setiap konten tetap berada di tangan redaksi, terlepas dari alat yang digunakan untuk membuatnya.
Dewan Pers Jerman juga menyatakan bahwa tanggung jawab editorial tidak berubah meski konten dibuat dengan bantuan teknologi.
Namun, lembaga tersebut tidak mewajibkan pelabelan khusus untuk konten AI, dengan alasan bahwa fokus utama adalah pada akurasi dan tanggung jawab editorial, bukan alat yang digunakan.
Di sisi lain, sejumlah kasus sebelumnya di industri media, termasuk laporan berbasis AI yang dipublikasikan Business Insider milik Axel Springer, menunjukkan meningkatnya kekhawatiran soal batas etika penggunaan AI dalam jurnalisme.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.