Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Aktivitas kebakaran di Kalimantan juga terpantau melalui sistem satelit Fire Information for Resource Management System (FIRMS) milik NASA.
Pada Kamis, 20 Agustus 2026, titik panas terlihat cukup padat, terutama di wilayah Indonesia yang berdekatan dengan perbatasan Sarawak.
Kabut asap lintas batas bukan persoalan baru bagi kawasan Asia Tenggara.
Fenomena tersebut kerap memburuk ketika musim kemarau, terutama saat kebakaran hutan dan lahan gambut menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia Arthur Joseph Kurup mengatakan pemerintah Malaysia terus memantau kondisi kabut asap di Sarawak dan sejumlah wilayah Semenanjung Malaysia sejak 8 Agustus.
Kurup juga mengatakan Malaysia telah berkoordinasi dengan Indonesia untuk menangani titik panas.
Menurut dia, berdasarkan Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas atau ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP), status Siaga Tingkat 2 telah diaktifkan sejak 3 Agustus.
"Negara-negara anggota diwajibkan menyampaikan laporan harian mengenai langkah-langkah penanggulangan yang dilakukan," ujar Kurup seperti dikutip harian New Straits Times.
Persoalan kabut asap kali ini terjadi ketika aktivitas karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan.
Pemantauan satelit NASA-NOAA pada 21 Agustus 2026 mencatat 1.842 titik panas dengan tingkat kepadatan tinggi di lima provinsi di Kalimantan.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas terbanyak dengan 976 titik.
Berikutnya Kalimantan Barat dengan 489 titik, Kalimantan Timur 237 titik, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.