Keluhan datang dari seorang warga Sibabangun, Dzulfadli Tambunan, yang membawa anaknya berobat pada Senin malam (13/10/2025), namun harus menunggu berjam-jam tanpa kejelasan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Menurut Dzulfadli, mereka tiba di rumah sakit sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah menjalani proses administrasi dan pemeriksaan awal, putrinya baru dipindahkan ke ruang rawat inap sekitar tiga jam kemudian.
"Pemeriksaan dan pemberian obat sudah dilakukan, bahkan hasil observasi sudah disampaikan kepada saya. Tapi kami harus menunggu hingga pukul 23.00 baru dibawa ke ruang rawat inap, sementara pasien yang datang belakangan justru lebih dulu ditangani," ujar Dzulfadli kepada wartawan.
Tak hanya soal lamanya penanganan, kondisi fasilitas ruang rawat inap juga memicu kekecewaan mendalam.
Dzulfadli mengungkapkan tempat tidur pasien dalam kondisi rusak dan tidak siap pakai. Pendingin ruangan juga tak berfungsi.
Bahkan, perawat baru menyiapkan tempat tidur setelah pasien tiba di ruangan.
"Pelayanan sangat kacau. Ini rumah sakit, bukan terminal. Seharusnya fasilitas dasar seperti tempat tidur dan AC sudah siap sebelum pasien masuk," keluh mantan Pemimpin Umum Koran Rakyat Tapanuli ini.
Dzulfadli mengaku, ini bukan pengalaman buruk pertamanya di RSUDPandan.
Beberapa bulan sebelumnya, ia sempat diminta membawa sendiri alas penutup kasur (bed cover) oleh petugas medis saat membawa anaknya untuk berobat.
"Saya hampir tidak percaya ketika mendengar permintaan itu. Diminta bawa penutup kasur? Rumah sakit ini dikelola profesional atau tidak?" tegasnya.