Hal ini terungkap setelah data yang dihimpun melalui aplikasi SiGizi Terpadu, per 10 Februari 2026, dilakukan oleh petugas kesehatan setempat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis, menjelaskan bahwa stunting dan gizi buruk merupakan dua masalah yang berbeda meskipun keduanya sama-sama terkait dengan gizi.
Menurutnya, stunting adalah kondisi yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak dalam jangka panjang.
"Stunting dan gizi buruk ini dua hal yang berbeda. Meskipun keduanya berhubungan dengan masalah gizi, stunting lebih kepada kondisi fisik yang terhambat akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan," ujar Hamid dalam pernyataannya kepada wartawan, Senin (30/3/2026).
Hamid merinci dua faktor utama penyebab stunting pada balita.
Penyebab langsung, yang mencakup kurangnya asupan gizi yang memadai dan penyakit menular seperti TBC, diare, dan kecacingan, menjadi faktor penyebab yang lebih sering terjadi.
"Jika balita menderita penyakit menular, seperti TBC atau diare, maka meskipun asupan gizi diterima, tubuh balita akan 'memakan' energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berkembang," jelas Hamid.
Selain itu, penyebab tidak langsung yang berkontribusi pada stunting dapat mencakup pola asuh yang salah, seperti pemberian makanan padat kepada bayi yang seharusnya masih mendapatkan ASI eksklusif.
Faktor ekonomi dan sanitasi lingkungan yang buruk juga dapat memicu kondisi tersebut.
"Bayi usia 0 hingga 6 bulan seharusnya hanya diberi ASI eksklusif, bukan makanan padat. Pemberian makanan yang salah pada usia ini bisa merusak sistem pencernaannya," tambahnya.
Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab tidak langsung yang meningkatkan risiko stunting pada anak.