Keluarga dengan pendapatan rendah atau terbatas cenderung mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan gizi yang optimal.
Bahkan, keluarga dengan kondisi ekonomi yang lebih baik pun bisa terpengaruh jika pola asuh anaknya tidak tepat.
Selain itu, faktor sanitasi yang buruk, seperti lingkungan kumuh dan tidak teratur dalam pembuangan sampah, juga berperan besar dalam penyebaran penyakit menular yang pada gilirannya dapat menyebabkan gizi buruk.
"Lingkungan yang buruk bisa meningkatkan risiko penyakit menular yang akhirnya mengganggu penyerapan gizibalita. Oleh karena itu, masalah sanitasi juga perlu mendapat perhatian lebih," ujar Hamid.
Salah satu program yang dijalankan adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang dilakukan di setiap Posyandu.
PMT lokal diberikan kepada balita yang terdeteksi bermasalah dengan status gizinya, dengan pemantauan terus-menerus terhadap berat badan dan keadaan tubuh mereka.
"Kita dorong setiap Posyandu untuk melaksanakan PMT lokal, serta memberikan tambahan vitamin dan zat gizi lainnya melalui Puskesmas untuk memperbaiki kondisi gizibalita," jelas Hamid.
Selain itu, Dinkes juga melaksanakan surveilans dan pemetaan untuk mengidentifikasi lingkungan dengan penyebaran penyakit menular, dengan tujuan untuk memutus rantai penyebaran tersebut.
Dinkes juga fokus pada upaya edukasi kepada masyarakat terkait pola asuh yang benar dan pentingnya gizi seimbang untuk balita.
Program edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dan pengasuh anak mengenai pentingnya pemberian gizi yang tepat sejak dini.
"Selain itu, kita juga memiliki program Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) untuk meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat. Kami bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Permukiman untuk menyediakan fasilitas jamban yang layak," ujar Hamid.