BREAKING NEWS
Sabtu, 29 Agustus 2026

Jalur Terjal Menkes BGS Rebut Kursi Dirjen WHO: Dikepung Birokrat Veteran, Suara Global South Jadi Kunci

Adelia Syafitri - Sabtu, 29 Agustus 2026 17:09 WIB
Jalur Terjal Menkes BGS Rebut Kursi Dirjen WHO: Dikepung Birokrat Veteran, Suara Global South Jadi Kunci
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (Foto: KOMPAS/HARYANTI PUSPA SARI )
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) periode 2027-2032 mulai menghangat. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (BGS) akan bersaing dengan sejumlah kandidat berpengalaman di panggung kesehatan global.

Mantan panel ahli WHO Dicky Budiman menilai BGS menghadapi tantangan cukup berat karena sejumlah pesaing memiliki pengalaman panjang di internal WHO dan jaringan yang kuat di antara negara anggota organisasi tersebut.

Dicky menempatkan Dr Hanan Balkhy dari Arab Saudi sebagai kandidat dengan posisi paling kuat. Balkhy merupakan dokter yang pernah menempuh pendidikan di Universitas King Abdulaziz, menjalani residensi di Massachusetts General Hospital dan fellowship penyakit infeksi di Cleveland Clinic, Amerika Serikat.

Baca Juga:

Saat ini Balkhy menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur. Sebelumnya, ia menduduki posisi Assistant Director-General WHO yang menangani isu resistensi antimikroba di kantor pusat WHO di Jenewa.

"Kalau di-ranking Hanan Balkhy nomor satu. Dia punya kredibilitas teknis penuh sebagai dokter, karier panjang di birokrasi WHO, dan jaringan internal yang sangat kuat," kata Dicky, Sabtu (29/8/2026).

Dicky menilai rekam jejak Balkhy di dalam WHO menjadi salah satu modal utama dalam perebutan dukungan. Ia juga menyebut latar belakang Balkhy yang lahir di Amerika Serikat berpotensi menjadi nilai diplomatik tersendiri dalam membangun hubungan dengan pemerintah AS.

Di posisi berikutnya, Dicky menilai Dr Hans Henri P Kluge asal Belgia sebagai kandidat kuat. Kluge merupakan Direktur Regional WHO Eropa sejak Februari 2020 dan memiliki pengalaman menangani berbagai persoalan kesehatan lintas negara.

Kluge memimpin kawasan Eropa melewati sejumlah krisis kesehatan, termasuk pandemi COVID-19, wabah Mpox serta dampak kesehatan akibat konflik Rusia-Ukraina.

Menurut Dicky, Kluge juga memiliki keuntungan dari dukungan negara-negara Eropa yang secara historis mempunyai posisi kuat dalam pengambilan keputusan di World Health Assembly (WHA).

Kandidat lainnya adalah mantan Menteri Kesehatan Qatar, Dr Hanan Mohammed Al-Kuwari. Dicky menilai profil Al-Kuwari cukup mirip dengan BGS karena sama-sama berasal dari pemerintahan nasional dan bukan birokrat yang berkarier panjang di internal WHO.

"Kekuatan Al-Kuwari terletak pada dukungan finansial-diplomatik negara Teluk dan posisi Qatar sebagai penghubung Timur Tengah dan Barat. Kalau dibandingkan, posisinya relatif setara dengan BGS sebagai outsider," ujarnya.

Menurut Dicky, BGS dan Al-Kuwari harus mengandalkan rekam jejak pemerintahan masing-masing serta dukungan politik dari negara-negara di luar struktur inti WHO untuk membangun koalisi suara.

Sementara Hanan Balkhy dan Hans Kluge telah memiliki pengalaman sebagai Direktur Regional WHO. Posisi tersebut dinilai memberikan akses dan jejaring yang lebih kuat terhadap para pengambil keputusan di organisasi kesehatan dunia.

Dicky menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan struktural bagi BGS. Terlebih, Indonesia disebut tidak memiliki kursi di Executive Board WHO pada sesi nominasi Januari 2027.

"Realistisnya, BGS menghadapi tantangan yang jauh lebih berat untuk membangun koalisi suara. Kekuatan utama BGS harus datang dari narasi Global South dan skala keberhasilan program domestik, bukan dari jaringan kelembagaan internal WHO," tegas Dicky.

Meski begitu, persaingan menuju posisi Direktur Jenderal WHO masih akan ditentukan oleh proses nominasi dan dukungan negara anggota. Setiap kandidat memiliki modal politik, diplomasi dan rekam jejak yang berbeda.

BGS sendiri membawa pengalaman sebagai Menteri Kesehatan Indonesia serta rekam jejak program kesehatan nasional sebagai modal dalam pencalonan. Keberhasilan membangun dukungan dari negara-negara Global South dinilai akan menjadi salah satu faktor penting apabila ingin memperbesar peluangnya.

Pemilihan Direktur Jenderal WHO periode 2027-2032 nantinya akan menjadi ajang perebutan dukungan negara anggota. Selain kapasitas teknis, kemampuan diplomasi dan membangun konsensus juga menjadi faktor penting dalam menentukan kandidat yang paling kuat.* (d/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Budi Gunadi Siap Mundur dari Menkes Jika Terpilih Jadi Dirjen WHO
Menkes Budi Gunadi Sadikin Jadi Kandidat Dirjen WHO, Ini Para Pesaingnya
Bos Baru BGN Dapat 3 Pesan Eks WHO, Program MBG Disorot dari Keamanan hingga Evaluasi
WHO Peringatkan Kasus Kanker Dunia Bisa Tembus 35 Juta per Tahun pada 2050
WHO: Gelombang Panas di Eropa Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang
PDDI DKI Jakarta Peringati Hari Donor Darah Sedunia 2026: Setetes Kemanusiaan, Berikan Darah, Selamatkan Nyawa
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru