BREAKING NEWS
Sabtu, 29 Agustus 2026

Sudah Dikasih Tanda Tapi Tetap Disedot! Kolam Ikan Warga Kalsel Dijadikan 'Mangsa' Heli Water Bombing, 2 Ton Ikan Mati

Administrator - Sabtu, 29 Agustus 2026 19:17 WIB
Sudah Dikasih Tanda Tapi Tetap Disedot! Kolam Ikan Warga Kalsel Dijadikan 'Mangsa' Heli Water Bombing, 2 Ton Ikan Mati
Penggunaan helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan berdampak pada kolam pemancingan milik warga di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANJAR - Penggunaan helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan berdampak pada kolam pemancingan milik warga di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Air kolam diambil berkali-kali untuk keperluan pemadaman hingga debit air menyusut dan membuat ikan stres serta banyak yang mati.

Pemilik kolam, Ahmad Jailani, mengatakan helikopter mengambil air dari kolamnya pada Kamis (27/8/2026). Pengambilan air dilakukan beberapa kali karena terbatasnya sumber air untuk mendukung operasi pemadaman karhutla di sejumlah wilayah Kalsel.

Menurut Jailani, pihaknya sempat memberikan tanda agar kolam tersebut tidak digunakan sebagai sumber air. Namun, helikopter tetap melakukan pengambilan air.

Baca Juga:

"Sudah kita kasih kode agar jangan mengambil air di kolam ini. Namun mereka tetap mengambilnya," kata Jailani, dikutip Sabtu (29/8/2026).

Akibat pengambilan air tersebut, volume kolam menyusut drastis. Kondisi itu berdampak pada sekitar 2 ton ikan berbagai jenis yang sedang dibudidayakan sekaligus menjadi bagian dari usaha pemancingan miliknya.

"Kolam saya ini khusus untuk kolam pemancingan, dan isi kolam ini sebanyak 2 ton ikan dengan berbagai jenis. Karena adanya helikopter tadi ikan menjadi stres dan banyak yang mati," ujarnya.

Jailani mengaku kondisi tersebut menimbulkan kerugian karena kolam pemancingan telah menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya. Ia juga harus mengeluarkan biaya sendiri untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.

Menurut Jailani, kolam tersebut telah dikelolanya sejak 2010. Selama musim kemarau, ia rutin mengisi kembali kolam menggunakan mobil pikap yang dilengkapi tandon air.

Setiap kali mengangkut air, biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp600 ribu.

"Selama kemarau ini kami berusaha mempertahankan debit air dengan mengisi menggunakan mobil pikap dengan disertai tandon air. Sekali angkut itu saya mengeluarkan biaya sebesar Rp600.000," kata Jailani.

Pengambilan air untuk operasi water bombing kemudian membuat debit kolam kembali berkurang. Jailani menilai upaya yang selama ini dilakukan untuk menjaga ikan tetap hidup menjadi sia-sia karena air kembali menyusut dalam waktu singkat.

Ia kini masih menghitung total kerugian yang dialami, termasuk akibat ikan yang mati dan berkurangnya kondisi kolam.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Sejarah Baru Militer Jepang: Kirim 3 Helikopter dan 600 Prajurit untuk Padamkan Karhutla Kalimantan
Bukan Gelombang Susulan, Validasi Lapangan Ungkap Lonjakan Drastis Pengungsi Gempa NTT hingga Belasan Ribu Jiwa
Lansia dan Perempuan Paling Banyak Jadi Korban, BNPB Beber Data Terbaru Gempa NTT
KPK Pastikan Gedung Merah Putih Aman Usai Insiden Kepulan Asap
Siang Bolong Terasa Senja, BMKG Ungkap Penyebab Langit Pontianak Berubah Kuning
"Tanggal 1 Kita Hajar Habis-habisan", Menhut Kejar 3 Hari Emas Peluang Hujan demi Padamkan Karhutla Riau
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru