Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
BANJAR - Penggunaan helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan berdampak pada kolam pemancingan milik warga di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Air kolam diambil berkali-kali untuk keperluan pemadaman hingga debit air menyusut dan membuat ikan stres serta banyak yang mati.
Pemilik kolam, Ahmad Jailani, mengatakan helikopter mengambil air dari kolamnya pada Kamis (27/8/2026). Pengambilan air dilakukan beberapa kali karena terbatasnya sumber air untuk mendukung operasi pemadaman karhutla di sejumlah wilayah Kalsel.
Menurut Jailani, pihaknya sempat memberikan tanda agar kolam tersebut tidak digunakan sebagai sumber air. Namun, helikopter tetap melakukan pengambilan air.
Baca Juga:
"Sudah kita kasih kode agar jangan mengambil air di kolam ini. Namun mereka tetap mengambilnya," kata Jailani, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Akibat pengambilan air tersebut, volume kolam menyusut drastis. Kondisi itu berdampak pada sekitar 2 ton ikan berbagai jenis yang sedang dibudidayakan sekaligus menjadi bagian dari usaha pemancingan miliknya.
"Kolam saya ini khusus untuk kolam pemancingan, dan isi kolam ini sebanyak 2 ton ikan dengan berbagai jenis. Karena adanya helikopter tadi ikan menjadi stres dan banyak yang mati," ujarnya.
Jailani mengaku kondisi tersebut menimbulkan kerugian karena kolam pemancingan telah menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya. Ia juga harus mengeluarkan biaya sendiri untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
Menurut Jailani, kolam tersebut telah dikelolanya sejak 2010. Selama musim kemarau, ia rutin mengisi kembali kolam menggunakan mobil pikap yang dilengkapi tandon air.
Setiap kali mengangkut air, biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp600 ribu.
"Selama kemarau ini kami berusaha mempertahankan debit air dengan mengisi menggunakan mobil pikap dengan disertai tandon air. Sekali angkut itu saya mengeluarkan biaya sebesar Rp600.000," kata Jailani.
Pengambilan air untuk operasi water bombing kemudian membuat debit kolam kembali berkurang. Jailani menilai upaya yang selama ini dilakukan untuk menjaga ikan tetap hidup menjadi sia-sia karena air kembali menyusut dalam waktu singkat.
Ia kini masih menghitung total kerugian yang dialami, termasuk akibat ikan yang mati dan berkurangnya kondisi kolam.
Jailani juga berencana meminta pertanggungjawaban dan ganti rugi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kerugian yang dialaminya.
"Siapa yang bertanggung jawab untuk mengganti kerugian kami. Air ini kami dapat dengan biaya sendiri, kami langsir supaya ikan bisa bertahan. Sekarang airnya habis lagi dan ikannya stres," ucapnya.
Di sisi lain, operasi helikopter water bombing masih terus dilakukan untuk membantu menangani karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Penggunaan sumber air dari berbagai lokasi dilakukan karena keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
Kondisi tersebut menunjukkan penanganan karhutla juga dapat berdampak terhadap aktivitas warga di sekitar wilayah operasi. Pemerintah dan pihak terkait perlu memperhatikan ketersediaan sumber air serta dampak terhadap masyarakat ketika menentukan lokasi pengambilan air untuk pemadaman.
Jailani berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan dan ada kejelasan mengenai tanggung jawab atas kerugian yang dialaminya.* (k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.