BREAKING NEWS
Senin, 21 September 2026

Mata Buram Setelah Lama Menatap Layar, Benarkah Tanda Minus Bertambah? Ini Penjelasan Dokter

Johan - Sabtu, 19 September 2026 20:54 WIB
Mata Buram Setelah Lama Menatap Layar, Benarkah Tanda Minus Bertambah? Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Mata terasa kurang nyaman atau penglihatan sedikit buram setelah beraktivitas dalam waktu lama belum tentu menandakan ukuran minus bertambah.

Kondisi tersebut bisa terjadi karena mata mengalami kelelahan, terutama setelah digunakan untuk melihat objek dekat atau menatap layar dalam waktu panjang.

Namun, penglihatan yang tetap kurang jelas meski mata sudah beristirahat perlu diperhatikan.

Baca Juga:

Perubahan kemampuan melihat dapat berkaitan dengan kelainan refraksi, tetapi kondisi tersebut tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan rasa buram atau tidak nyaman pada mata.

Dokter Spesialis Mata RSUD Bung Karno Kota Surakarta, dr. Andi Cleveriawan Arvi Putra, Sp.M, menjelaskan hal tersebut dalam podcast YouTube bertajuk "Kacamata Baru Malah Bikin Pusing? Hati-hati Bahaya Over Koreksi!".

Menurut dr. Andi, kondisi penglihatan setelah mata memperoleh waktu istirahat yang cukup dapat menjadi salah satu hal yang diperhatikan saat melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan juga sebaiknya tidak dilakukan ketika mata baru saja bangun karena kondisi mata masih dapat dipengaruhi keadaan setelah tidur.

"Kalau misalnya apabila tadi saya bilang ketika fase istirahatnya sudah cukup, sudah enak, terutama di pemeriksaan pagi, tapi bukan pagi sekali. Mungkin sekitar jam 09.00, jam 10.00, jam 11.00, tapi melihatnya kurang jelas, berarti ada sesuatu," jelas dr. Andi.

Dengan demikian, mata lelah perlu dibedakan dari gangguan penglihatan yang tetap muncul setelah mata mendapatkan waktu istirahat.

Jika penglihatan masih terasa kurang jelas setelah beristirahat, pemeriksaan mata dapat dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.

Dr. Andi mengingatkan bahwa kelainan refraksi tidak dapat disimpulkan hanya dengan melihat angka minus dan plus.

Gangguan penglihatan dapat berupa rabun jauh maupun rabun dekat.

Karena itu, seseorang yang merasa penglihatannya terganggu belum tentu otomatis mengalami pertambahan minus.

"Jangan dipukul rata bahwa setiap penglihatan itu seolah-olah seperti minus dan plus seperti matematika. Tidak, tidak sesimpel itu dalam menilai bahwa minus plus itu seperti rumus matematika," jelasnya.

Menurut dr. Andi, istilah rabun berkaitan dengan kesulitan melihat pada jarak tertentu.

"Rabun ada dua, rabun jauh, rabun dekat. Dikatakan rabun apabila kita kesulitan melihat jauh dan kesulitan pada saat melihat dekat," tambahnya.

Selain rabun jauh dan rabun dekat, pemeriksaan mata juga dapat mengetahui apakah seseorang mengalami kelainan refraksi berupa silinder.

Karena itu, perubahan penglihatan sebaiknya diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui apakah keluhan hanya muncul saat mata lelah atau tetap terjadi setelah mata beristirahat.

Dalam aktivitas sehari-hari, seseorang terkadang merasa penglihatannya kurang tajam karena tidak dapat membaca seluruh tulisan dari jarak tertentu.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mata yang harus langsung dikoreksi dengan kacamata.

Dr. Andi mengatakan kemampuan melihat bukan berarti seseorang harus mampu membaca semua tulisan atau membuat setiap objek terlihat sangat terang dan tajam.

"Tidak semua tulisan harus terlihat. Kadang-kadang saya dapat pasien, tapi tulisan yang itu enggak kelihatan. Itu normal. Saya juga enggak melihat. Itu juga normal," tuturnya.

Menurut dia, yang lebih penting adalah kemampuan melihat tersebut sudah cukup untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Keinginan membuat seluruh objek terlihat semakin terang dan tajam justru dapat menjadi masalah jika koreksi yang diberikan terlalu tinggi.

"Yang penting cukup. Nah, kadang-kadang efeknya apa kalau misalnya kita merasa kepengin terang, kepengin terang, kepengin terang? Efeknya namanya overcorrections," pungkasnya.

Kacamata digunakan untuk membantu seseorang melihat dengan lebih baik.

Namun, ukuran lensa sebaiknya ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang tepat.

Pengguna kacamata tidak disarankan menentukan sendiri bahwa ukuran lensa harus ditambah hanya karena merasa penglihatannya belum cukup tajam.

Mata lelah juga tidak selalu berarti ukuran minus bertambah.

Sebaliknya, apabila penglihatan tetap kurang jelas setelah mata memperoleh waktu istirahat yang cukup, pemeriksaan mata dapat membantu mengetahui apakah terdapat kelainan refraksi atau penyebab lain.

Membedakan mata lelah dan gangguan penglihatan yang menetap menjadi penting karena keduanya dapat menimbulkan keluhan yang serupa, tetapi penyebab dan penanganannya belum tentu sama.

Karena itu, perubahan penglihatan sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan angka minus atau keinginan mendapatkan pandangan yang semakin tajam.

Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan mata dapat membantu menentukan kondisi penglihatan dan ukuran koreksi yang sesuai.* (tb/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
19 Daerah di Sumut Terdampak Asap Karhutla, Dinkes Minta Warga Gunakan Masker
Kecamatan Percut Seituan Resmi Dimekarkan! Ini 10 Desa yang Masuk Kecamatan Percut Deli
Imbas Marak Keracunan MBG di Sumut, Dinkes Siantar Perketat Dapur SPPG dan Juru Masak
Udara Medan Masuk Kategori Tidak Sehat, DPRD Minta Siswa Gunakan Masker
Beli Kualitas A, Datang Kualitas D: Kepala BGN Bongkar Biang Kerok Gangguan Kesehatan MBG
Diduga Keracunan Usai Makan MBG, 26 Siswa dan Guru di SMP Muhammadiyah Al Amin Sorong Alami Muntah hingga Diare
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru