JABAR -Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi tragedi ledakan amunisi yang terjadi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, pada Senin (12/5/2024) lalu, yang mengakibatkan tewasnya sembilan warga sipil. Dedi menyatakan bahwa keterlibatan warga sipil dalam kegiatan pemusnahan amunisi bukanlah tindakan yang tepat, meskipun warga tersebut sudah lama bekerja dan merasa terlatih dalam aktivitas tersebut.
"Walaupun mereka merasa terlatih karena sudah 10 tahun membantu TNI, pekerjaan seperti itu bukan ranah sipil. Pemusnahan amunisi adalah kegiatan dengan risiko tinggi yang seharusnya hanya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar terlatih," ujar Dedi, saat ditemui usai mengunjungi SMAN 2 Purwakarta, Rabu (14/5/2025).
Dedi juga menekankan bahwa masalah ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut perlindungan terhadap warga sipil yang tidak seharusnya terlibat dalam aktivitas berisiko seperti pemusnahan amunisi militer. "Mabes TNI yang memiliki kewenangan mengenai hal ini, namun sebagai kepala daerah, saya menyoroti pentingnya perlindungan warga dari risiko yang seharusnya tidak mereka hadapi," tambah Dedi.
Pernyataan Dedi tersebut muncul setelah terungkapnya fakta bahwa sembilan warga sipil yang tewas dalam ledakan tersebut terlibat dalam kegiatan pemusnahan amunisi kedaluwarsa yang dilakukan oleh TNI. Meskipun Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Kristomei Sianturi mengatakan bahwa warga sipil yang menjadi korban adalah pemulung yang mengumpulkan sisa-sisa amunisi, keluarga korban membantah pernyataan itu.
Agus, adik dari korban Rustiawan, menegaskan bahwa saudaranya bukanlah pemulung, melainkan sudah bekerja dengan TNI selama 10 tahun untuk membantu pemusnahan amunisi.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah penanganan sosial bagi korban dan keluarga mereka. Ia juga berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan, dengan mengingatkan pentingnya evaluasi dan pengawasan dalam kegiatan yang melibatkan warga sipil. "Saat ini, fokus saya adalah membantu penanganan dampak sosial dari kejadian ini dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang lagi," kata Dedi.
Dedi juga menyarankan agar kedepannya, warga sipil yang terlibat dalam pemusnahan amunisi seperti yang terjadi di Garut, tidak lagi dipertimbangkan untuk dilibatkan dalam kegiatan berisiko tersebut.
Kejadian ledakan tersebut menyebabkan 13 orang meninggal, terdiri dari empat prajurit TNI dan sembilan warga sipil. Kejadian ini menjadi sorotan, mengingat tingginya risiko yang dihadapi oleh warga sipil dalam proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa.*
(km/j006)
Editor
:
Dedi Mulyadi Soroti Keterlibatan Warga Sipil dalam Pemusnahan Amunisi di Garut yang Menewaskan 9 Orang