MEDAN – Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap dipenuhi tekanan, kecemasan, dan tuntutan sosial, aliran filsafat kuno bernamastoikisme kembali mencuri perhatian.
Ajaran yang telah eksis sejak ribuan tahun silam ini menawarkan sudut pandang hidup yang menenangkan dan membebaskan manusia dari emosi negatif.
Dikenal juga dengan istilah stoisisme atau filsafatStoa, aliran ini berakar dari Yunani Kuno dan dikembangkan oleh Zeno dari Citium pada abad ke-3 SM.
Nama "Stoa" sendiri merujuk pada Stoa Poikile, sebuah teras berpilar di Kota Atena tempat Zeno mengajar murid-muridnya.
Stoikisme, Jalan Menuju Hidup yang Lebih Tangguh dan Bermakna
Dalam publikasi Bulletin of Counseling and Psychotherapy, penulis Henry Manampiring menjelaskan bahwa stoikisme adalah filsafat praktis yang bertujuan membantu manusia hidup lebih tangguh, bahagia, dan bijaksana.
Bukan sekadar teori, stoikisme membumi dalam kehidupan sehari-hari, mengajak setiap orang untuk fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan, dan menerima apa yang berada di luar kuasa mereka.
Pemikiran ini menjadi relevan di era modern karena memberikan ruang refleksi yang dalam terhadap sumber ketidakbahagiaan manusia: keinginan yang tak terkendali, ekspektasi terhadap dunia luar, dan ketakutan akan masa depan.
Empat Pilar Stoikisme: Fondasi Etika dan Spiritualitas
Stoikisme berlandaskan pada empat prinsip utama yang terus dijunjung tinggi oleh para filsuf Stoa, seperti Zeno, Seneca, Epictetus, hingga Marcus Aurelius, kaisar Romawi yang juga dikenal sebagai pemikir stoik.
1. Keberanian
Stoikisme menekankan pentingnya keberanian dalam menghadapi cobaan hidup.