12 Orang Lapor ke Komnas HAM Terkait Ancaman, Kasus Andrie Yunus Semakin Memanas
JAKARTA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menerima laporan dari 12 orang yang mengaku telah menerima ancaman setelah terjad
HUKUM DAN KRIMINAL
BITVONLINE.COM– Perang di Ukraina semakin memanas setelah Rusia meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) untuk pertama kalinya, menandai eskalasi baru dalam konflik yang sudah berlangsung lebih dari setahun. Serangan tersebut terjadi pada Kamis (21/11), dengan Rusia meluncurkan beberapa jenis rudal, termasuk yang dikenal dengan nama Oreshnik, yang diperkirakan merupakan senjata hipersonik baru yang dirancang untuk mencapai kecepatan Mach 10 atau sekitar 2,5 hingga 3 kilometer per detik.
Serangan rudal ini mengarah ke kota Dnipro di Ukraina, menargetkan infrastruktur vital, dan menimbulkan kekhawatiran internasional tentang kemampuan militer Rusia yang semakin canggih. Menurut pernyataan Angkatan Udara Ukraina, rudal-rudal tersebut diluncurkan dari wilayah Astrakhan di Federasi Rusia dan berhasil menghantam beberapa lokasi strategis di Ukraina tengah.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi bahwa peluncuran rudal Oreshnik merupakan uji coba dalam kondisi pertempuran terhadap sistem rudal jarak menengah terbaru Rusia. Putin menjelaskan bahwa rudal ini memiliki kemampuan hipersonik yang sulit dihentikan oleh sistem pertahanan udara manapun. “Sistem pertahanan udara modern tidak dapat mencegat rudal semacam itu. Itu tidak mungkin,” tegas Putin dalam pidatonya, menambahkan bahwa pengujian tersebut berhasil mencapai sasaran yang ditentukan.
Pada kesempatan yang sama, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengungkapkan bahwa Rusia telah memberi tahu Amerika Serikat 30 menit sebelum meluncurkan rudal tersebut. Peskov menyatakan bahwa Rusia menggunakan jalur komunikasi otomatis, yang dikenal sebagai hotline de-eskalasi nuklir, untuk memberi peringatan kepada AS mengenai peluncuran rudal hipersonik tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi potensi kesalahan atau eskalasi yang tidak diinginkan.
Pernyataan ini memberikan gambaran tentang bagaimana diplomasi jalur militer dan komunikasi internasional berperan dalam mengelola ketegangan yang semakin meningkat antara Rusia dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, yang terlibat dalam mendukung Ukraina.
Klaim Rusia tentang penggunaan rudal hipersonik dan langkah pencegahan yang diambil melalui pemberitahuan kepada AS mendapat sorotan dari berbagai pihak. Para ahli militer dan pengamat geopolitik mengingatkan tentang potensi peningkatan ketegangan global, terutama mengingat penggunaan senjata hipersonik yang sulit dicegah ini. Beberapa pihak menilai langkah Rusia tersebut bisa meningkatkan ketidakpastian di kawasan dan menambah tekanan pada negara-negara yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam konflik ini.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan bahwa serangan Rusia dengan menggunakan rudal balistik antarbenua ini merupakan ancaman serius, meskipun hingga saat ini Ukraina berhasil menggagalkan beberapa serangan tersebut. Angkatan Udara Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh enam rudal yang diluncurkan, namun masih melakukan investigasi untuk memastikan apakah rudal Oreshnik yang diluncurkan itu benar-benar berhasil dicegat.
Seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi militer canggih dalam konflik ini, pertanyaan besar muncul tentang bagaimana dunia dapat menanggapi ancaman dari senjata semacam ini dan dampaknya terhadap keamanan global. Rusia, dengan peluncuran rudal Oreshnik dan kemampuan militer yang semakin modern, tampaknya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki kapasitas untuk merespons serangan secara lebih agresif dan sulit dibendung. Sementara itu, Ukraina terus berjuang untuk mempertahankan wilayahnya dan mendapat dukungan internasional yang lebih besar, terutama dalam menghadapi ancaman rudal semacam ini.
Keterlibatan AS dalam komunikasi de-eskalasi yang diungkapkan Peskov memberikan gambaran tentang pentingnya saluran diplomatik untuk mencegah konflik yang lebih luas. Namun, pertanyaan mengenai bagaimana negara-negara besar lainnya, termasuk China dan negara-negara Eropa, akan merespons ketegangan ini, tetap menjadi fokus perhatian internasional.
Dengan potensi konflik yang semakin tinggi, dunia kini lebih dari sebelumnya membutuhkan diplomasi yang lebih intensif dan terkoordinasi untuk mencegah konflik ini meluas dan merenggut lebih banyak nyawa.
(JOHANSIRAIT)
JAKARTA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menerima laporan dari 12 orang yang mengaku telah menerima ancaman setelah terjad
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Setelah divonis bebas dari dakwaan kasus korupsi terkait markup biaya produksi video profil desa, Amsal Sitepu kembali mendapatk
NASIONAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang tunai ratusan juta rupiah saat menggeledah rumah Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, On
HUKUM DAN KRIMINAL
BEIRUT Misi perdamaian PBB di Lebanon, UNIFIL, Rabu (2/4/2026), menggelar upacara penghormatan terakhir bagi tiga prajurit TNI yang gugu
INTERNASIONAL
JAKARTA Pengusaha Muhammad Suryo (MS) mangkir dari panggilan pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan suap di
HUKUM DAN KRIMINAL
LONDON Sekitar 40 negara mulai membentuk koalisi internasional untuk mencari solusi membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade Iran, ja
INTERNASIONAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan bahwa tingkat kepatuhan dalam pelaporan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Neg
PEMERINTAHAN
JAKARTA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengumumkan bahwa mereka akan segera meminta keterangan dari empat prajurit TNI y
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Meskipun industri film Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, persoalan struktural dalam ekosistem perfilman nasiona
NASIONAL
BINJAI Polres Binjai kembali melaksanakan operasi Grebek Sarang Narkoba (GSN) di Desa Perhiasan, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat,
HUKUM DAN KRIMINAL