BREAKING NEWS
Kamis, 15 Januari 2026

Tatanan Global Amburadul, Bagaimana Strategi Diplomasi Indonesia? Menlu Sugiono Buka Suara

Adelia Syafitri - Rabu, 14 Januari 2026 13:38 WIB
Tatanan Global Amburadul, Bagaimana Strategi Diplomasi Indonesia? Menlu Sugiono Buka Suara
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, dalam acara Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026, Rabu (14/1/2026). (foto: tangkapan layar yt MoFA Indonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap pasif di tengah dinamika global yang semakin keras, kompetitif, dan sulit diprediksi.

Diplomasi Indonesia, menurut Sugiono, harus dibangun di atas kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan pendekatan realistis.

"Ketahanan yang bersifat dinamis sangat penting karena ancaman tidak lagi datang dalam bentuk tunggal, dan krisis tidak hadir satu per satu. Dinamika global, cepat atau lambat, akan terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," ujar Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026, Rabu (14/1/2026).

Baca Juga:

Sugiono menekankan bahwa fenomena global, seperti gangguan rantai pasok yang memicu kenaikan harga bahan pokok, termasuk persoalan politik luar negeri.

Begitu pula dengan perkembangan teknologi yang memperlebar kesenjangan akses pendidikan dan lapangan kerja, serta memburuknya situasi keamanan di sejumlah wilayah, yang berdampak pada keselamatan WNI di luar negeri.

Dalam konteks ini, Sugiono menekankan pentingnya ketahanan nasional yang dibangun dari dalam negeri, bukan dipinjam dari pihak lain.

"Hanya negara yang kuat secara internal yang memiliki daya tawar di tingkat global. Diplomasi ketahanan ini bersifat adaptif dan menjadi pilar fundamental politik luar negeri Indonesia," katanya.

Sugiono juga menyoroti bidang kedaulatan dan pertahanan. Stabilitas nasional tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dikelola secara aktif dengan kepatuhan terhadap hukum internasional.

Prioritas utama, menurutnya, adalah penyelesaian batas wilayah darat dan maritim, yang sepanjang 2025 menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk dengan Malaysia, Timor Leste, dan Vietnam.

Di bidang pertahanan, Indonesia membentuk kerja sama strategis dengan Rusia dan Thailand, serta meningkatkan hubungan dengan Vietnam menjadi kemitraan strategis komprehensif.

Tercatat, ada tujuh kerja sama di bidang pertahanan dan 16 perjanjian penegakan hukum dengan berbagai negara, termasuk Australia, Kanada, Prancis, Turkiye, dan Yordania.

Sugiono menekankan bahwa diplomasi dan pertahanan harus berjalan sinergis.

Intensitas dialog strategis meningkat, termasuk pelaksanaan empat pertemuan Dialogue 2+2 antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan dengan China, Jepang, Australia, dan Turkiye.

"Kunci dari ketahanan Indonesia bukan unjuk kekuatan, melainkan kepastian kebijakan, pencegahan konflik, dan pembukaan ruang dialog konstruktif. Dunia saat ini menunjukkan batas yang semakin kabur antara ekonomi dan keamanan, sehingga respons diplomasi harus adaptif dan terintegrasi," pungkas Sugiono.*


(bi/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
13 Mahasiswa Tantang Pasal KUHP soal Penghinaan Presiden ke MK, Dinilai Batasi Kebebasan Berekspresi
Dua Terperiksa Kasus Dugaan Korupsi Dana Dacil Mangkir dari Panggilan Kejari Nias Selatan
Danpuspomad Kunjungi Pematang Siantar, Pemkab Simalungun Tegaskan Komitmen Keamanan Daerah
Kontroversi Mens Rea, Netflix Bisa Laporkan Pelapor Pandji karena Flashdisk “Ilegal”
Kabar Gembira untuk ARMY! BTS Gelar Konser di Jakarta Setelah Hiatus Militer, Catat Tanggalnya!
8 Bulan Mandek! 34 Saksi Diperiksa, Tapi Kasus Dugaan Korupsi Dana Dacil Nias Selatan Belum Ada Tersangka
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru