Menurut Dody, kejadian ini disebabkan oleh pelebaran alur sungai, karakter tanah aluvial berpasir yang rapuh, serta dampak gempa bumi yang memperburuk kondisi struktur tanah.
"Kondisi tanah yang rapuh di kawasan ini mudah tergerus air, dan pergerakan air dari sungai memperburuk keadaan," ungkap Dody usai menghadiri Rapat Koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Bencana Sumatera di Gedung Nusantara IV DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Dody menjelaskan bahwa selain masalah pelebaran sungai yang mengalami pendangkalan, tanah aluvial berpasir di sekitar lokasi juga memiliki daya ikat yang rendah.
Ditambah dengan adanya gempa yang menyebabkan retakan tanah, air sungai mulai merembes masuk ke bawah permukaan tanah dan menciptakan gua di area sekitar sinkhole.
"Ada gua yang basah, meskipun jaraknya cukup jauh dari sungai, menandakan adanya aliran air dari sungai ke dalam tanah," jelasnya.
Sebagai langkah penanganan awal, Kementerian PU melalui balai-balai teknisnya sedang melakukan pemasangan patok dan penguatan struktur tanah untuk mencegah meluasnya lubang tersebut.
"Kami sedang membuat beberapa titik penanganan untuk memperkuat area yang terancam, termasuk jalur detour yang harus dijaga agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut," tambah Dody.
Tunggu Kajian Teknis USK
Kementerian PU kini sedang menunggu hasil kajian teknis dari Universitas Syiah Kuala (USK) yang tengah disusun untuk memahami secara rinci penyebab geologi dan solusi jangka panjang bagi penanganan sinkhole.
Meskipun penanganan sementara telah dilakukan, langkah lebih komprehensif tetap diperlukan untuk menilai secara ilmiah kondisi lapangan dan menentukan strategi lebih lanjut.
"Penanganan sementara ini kami lakukan untuk menahan perluasan lubang agar tidak mengenai pemukiman sekitar. Sembari menunggu hasil kajian dari USK," jelas Dody.