JAKARTA — Di tengah ketegangan yang terus membayangi Amerika Serikat dan Iran, kedua negara kembali duduk dalam negosiasi tidak langsung di Jenewa, Kamis (26/2/2026).
Perundingan yang dimediasi pihak ketiga ini menjadi sorotan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Melalui akun X, @SBYudhoyono, ia menulis, "Hari-hari yang menentukan sejarah Amerika dan Iran: perang atau damai?"
Menurut SBY, kota Jenewa memiliki potensi menjadi saksi sejarah, dengan kemungkinan melahirkan "game change" yang berdampak pada dinamika global.
Negosiasi ini terutama membahas masa depan proyek nuklirIran, yang hingga kini menjadi isu kompleks dan sensitif.
SBY menilai membangun titik temu antara AS dan Iran bukan perkara mudah.
"Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Sementara perunding tengah bernegosiasi, dua negara di kawasan Timur Tengah siap berhadapan," ujar SBY.
Ia menekankan pentingnya perunding memahami karakter kedua pemimpin, yakni Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut SBY, kedua tokoh memiliki ego, ambisi, dan kepentingan pribadi yang tinggi, sehingga keberhasilan negosiasi memerlukan kesabaran, kecerdasan, dan kompromi strategis.
"Ada konteks war of necessity dan war of choice. Kedua pihak akan menimbang risiko sebelum memutuskan berperang," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perang menyangkut nasib rakyat, sehingga keputusan semestinya didasarkan pada kalkulasi rasional dan bukan sekadar ego politik.