BREAKING NEWS
Jumat, 24 April 2026

Wacana PLTN Menguat, Indonesia Dinilai Siap Bangun Reaktor Modular

gusWedha - Selasa, 03 Maret 2026 14:36 WIB
Wacana PLTN Menguat, Indonesia Dinilai Siap Bangun Reaktor Modular
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional, Bahlil Lahadalia, mendorong nuklir masuk dalam strategi ketahanan energi nasional.

Sejumlah akademisi menilai Indonesia memiliki kapasitas untuk mengembangkan PLTN dengan standar keselamatan internasional, baik dari sisi sumber daya manusia, potensi bahan baku, maupun kesiapan kelembagaan.

Pakar energi dari Universitas Hasanuddin, Muhammad Bachtiar Nappu, mengatakan konsep Small Modular Reactor (SMR) menjadi opsi paling realistis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Baca Juga:

"PLTN modular dalam bentuk SMR menjadi jaminan ketahanan energi ke depan dalam skala yang lebih terukur," ujar Bachtiar, Minggu, 15 Februari 2026.

Ia menjelaskan, PLTN konvensional umumnya berkapasitas sekitar 1.000 megawatt listrik (MWe), sedangkan SMR dapat dimulai dari kapasitas sekitar 50 MWe dan dikembangkan bertahap sesuai kebutuhan daerah.

Pendekatan modular dinilai lebih fleksibel untuk wilayah terpencil sekaligus menekan risiko investasi awal.

Pandangan serupa disampaikan Andi Jumardi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan.

Menurut dia, energi nuklir berpotensi lebih kompetitif secara ekonomi dalam jangka panjang dibandingkan energi fosil, terutama untuk negara berpenduduk besar seperti Indonesia.

Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Ary Bachtiar Krishna Putra, menekankan keunggulan nuklir dari sisi densitas energi dan emisi karbon.

"Dengan bahan bakar sangat kecil, listrik yang dihasilkan besar dan stabil. Secara proses, tidak ada emisi karbon," ujarnya.

Meski demikian, Ary mengingatkan tantangan utama bukan hanya pada aspek teknologi, melainkan juga penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, serta penerimaan publik.

Edukasi berbasis sains, kata dia, menjadi kunci untuk membedakan teknologi generasi lama dengan sistem modern yang memiliki fitur keselamatan pasif.

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Target PLTN Pertama Beroperasi 2032, Wakil Ketua MPR: Energi Nuklir Kunci Ketahanan Energi dan Dekarbonisasi Indonesia
Agus Puji Prasetyono: Energi Nasional Tertinggal, PLTN Bukan Lagi Opsi Terakhir
Di Tengah Penolakan Pulau Gelasa, Tokoh Forkoda Bangka Utara Dr Ahmad Nahwani Buka Opsi PLTN Mantung sebagai Alternatif Strategis
Bahlil: Nuklir Bukan Lagi Wacana, Masuk Prioritas Energi Nasional
700 Peserta Ramaikan Pemoeda Fun Run Pangkalpinang, Thorcon Kenalkan PLTN ke Generasi Muda
Belum Ada AMDAL? Ini Penjelasan PT Thorcon soal Tahapan Perizinan PLTN
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Pemekaran atau Perluasan Beban?

Pemekaran atau Perluasan Beban?

Oleh Krisna.SUDAH terlalu lama pemekaran daerah dijual sebagai janji kesejahteraan. Narasinya indah, mudah dipercaya, dan terus diulang sej

OPINI