BREAKING NEWS
Kamis, 30 Juli 2026

Program MBG untuk Santri Masih Minim, Menag Ajukan Tiga Usulan Strategis

Adelia Syafitri - Kamis, 30 Juli 2026 08:42 WIB
Program MBG untuk Santri Masih Minim, Menag Ajukan Tiga Usulan Strategis
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. (foto: Kemenag RI/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengusulkan tiga langkah strategis untuk memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi santri di pondok pesantren.

Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tata Kelola MBG yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Rakortas dihadiri perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Badan Komunikasi RI, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, serta sejumlah instansi terkait.

Baca Juga:

Dalam rapat tersebut, Menag menilai jangkauan penerima manfaat MBG di lingkungan pesantren masih sangat terbatas.

Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Badan Gizi Nasional per 28 Juli 2026, dari total 4.268.848 santri di Indonesia, baru 61.195 santri yang menerima manfaat program tersebut.

"Angka ini baru sekitar 1,43 persen dari total keseluruhan santri kita. Kelompok santri ini boleh dikatakan sebagai pihak yang paling memerlukan sentuhan program gizi, namun ternyata baru sekitar satu persen yang bisa tersentuh. Ini yang perlu kita dorong bersama," papar Menag.

Menurut Nasaruddin Umar, sebagian besar pondok pesantren memang telah memiliki dapur umum yang dikelola secara mandiri.

Namun, program MBG tetap dinilai penting untuk membantu meningkatkan kualitas pemenuhan gizi para santri.

Selain memperluas penerima manfaat, Menag juga mengusulkan agar Badan Gizi Nasional melibatkan ekosistem pesantren dalam penyediaan bahan pangan untuk program tersebut.

"Terkait dengan supplier bahan makanan untuk program MBG ini, kami mengusulkan agar BGN mungkin bisa memanfaatkan dan memberdayakan sumber-sumber bahan baku yang selama ini sudah ada dan dikelola secara mandiri oleh pesantren itu sendiri. Ini tak hanya akan menekan biaya logistik tetapi juga semakin menghidupkan kemandirian ekonomi pesantren," usul Menag.

Usulan ketiga berkaitan dengan mekanisme distribusi makanan.

Menurut Menag, jadwal pengiriman makanan perlu disesuaikan dengan kebiasaan santri yang menjalankan puasa sunah setiap Senin dan Kamis.

"Di pondok pesantren itu ada kebiasaan puasa Senin dan Kamis. Hal ini tentu kurang sinkron dengan jadwal distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang umumnya diantar pada siang hari. Oleh karena itu, perlu ada penyesuaian jadwal distribusi, misalnya dikirim menjelang waktu berbuka puasa agar makanan yang diterima santri tetap fresh," jelasnya.

Menag juga menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada ketepatan data penerima manfaat.

"Kalau data kita tepat, saya kira tidak akan sulit mengurai permasalahan. Tetapi kalau datanya tidak valid, pasti akan susah untuk menyelesaikan persoalan di lapangan," ucapnya.

Ia memastikan Kementerian Agama siap mendukung percepatan pelaksanaan program melalui pendataan yang lebih akurat.

"Kemenag akan segera bergerak dan ini akan diselesaikan dalam waktu yang secepatnya, insyaallah. Dengan data yang valid, Kementerian Agama melalui kelompok santrinya, madrasahnya, dan kelompok-kelompok lintas agama lainnya, insyaallah akan lebih praktis untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan lembaga pengelola program ini ke depan," pungkas Menag.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah terus melakukan pembenahan tata kelola Program MBG agar pelaksanaannya semakin efektif dan tepat sasaran.

"Dalam waktu dekat, kita targetkan penataan SPPG ini segera rampung, khususnya terkait pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SHLS). Pendataan untuk area prioritas penerima manfaat juga harus segera diselesaikan, di mana fokus utama kita menyasar wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T)," tegas Zulkifli Hasan.

Menurutnya, sinkronisasi data antarkementerian dan lembaga menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat pelaksanaan program.

"Melalui rapat hari ini, kita juga telah menyepakati langkah percepatan. Paling lambat 5 Agustus mendatang, pemutakhiran data dari seluruh kementerian dan lembaga yang terlibat dalam program MBG ini harus sudah disetorkan. Sinkronisasi data ini adalah prioritas yang harus segera diselesaikan," ucap Menko Pangan.

Pemerintah berharap perluasan penerima manfaat, penguatan kolaborasi dengan pesantren, serta penyempurnaan sistem pendataan dan distribusi dapat membuat Program Makan Bergizi Gratis menjangkau lebih banyak santri dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.* (bi/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Mau Pinjam Modal Usaha? KUR BNI 2026 Resmi Dibuka, Pinjam Rp100 Juta Angsuran Mulai Rp1,9 Jutaan
Pemko Tanjungbalai Dukung Program Literasi Digital 2026, Mahyaruddin: Masyarakat Harus Cakap dan Bijak Bermedia
Wali Kota Tanjungbalai Minta DP3A-PM Tingkatkan Layanan Calon Pengantin untuk Cegah Stunting
Sudaryono Buka Suara soal Dugaan Pemborosan MBG Rp10,5 Triliun, Begini Responsnya
BGN Siapkan Dewan Pengawas MBG, Ahli Gizi hingga Chef Kawal Kualitas Program Makan Gratis
Utang Rp1,6 Triliun BGN Jadi Sorotan, Sudaryono Pastikan Pembayaran Tunggu Audit
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru