BREAKING NEWS
Senin, 17 Agustus 2026

Kepala BGN: Tak Peduli Punya Siapa, SPPG Tak Sesuai Standar Ditutup Permanen!

Administrator - Senin, 17 Agustus 2026 18:51 WIB
Kepala BGN: Tak Peduli Punya Siapa, SPPG Tak Sesuai Standar Ditutup Permanen!
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. (foto: Dok. BGN)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan akan menutup permanen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar.

Penutupan tersebut berlaku tanpa melihat siapa pemilik atau pengelola dapur.

Pernyataan itu disampaikan Sudaryono saat memberikan tanggapan mengenai evaluasi BGN setelah insiden dugaan keracunan makanan MBG yang dialami sejumlah siswa SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

Baca Juga:

"Ya, saya enggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa, punya siapa, saya enggak lihat. Saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen," kata Sudaryono di halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin, 17 Agustus 2026.

Sudaryono mengatakan kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh SPPG yang tidak mampu memenuhi standar operasional yang ditetapkan BGN.

Dapur yang dinilai tidak dapat diperbaiki akan ditutup secara permanen.

Ia mengungkapkan BGN telah menutup sekitar 1.300 SPPG dalam tiga pekan sejak dirinya menjabat sebagai Kepala BGN.

Dari jumlah tersebut, sekitar 800 SPPG telah ditutup dan 500 lainnya menyusul.

Menurut Sudaryono, evaluasi dilakukan untuk memastikan seluruh dapur MBG mampu menjalankan standar keamanan dan kualitas makanan yang telah ditetapkan.

Selain mengevaluasi kelayakan dapur, BGN juga mengkaji prosedur pemeriksaan makanan setelah insiden dugaan keracunan di Berastagi.

Sudaryono mengatakan pemeriksaan secara organoleptik, seperti melihat kondisi, mencium bau, dan mencicipi makanan, belum tentu dapat mendeteksi seluruh potensi masalah pada makanan.

"Jadi, bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi dibau, dirasa, dicicipi, ya. Sudah dibau enggak ada masalah, dicicipi juga enggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi," ujarnya.

Karena itu, BGN mempertimbangkan penggunaan test kit di setiap dapur SPPG.

Alat tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu pemeriksaan makanan dengan bahan kimia tertentu.

"Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit. Jadi dites, diberi dikasih chemical untuk ngecek apakah ada arsen, ada basi, ada apa," ucapnya.

BGN, kata Sudaryono, sedang mempelajari penerapan test kit di sejumlah SPPG yang selama ini telah menggunakannya.

Salah satunya adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri.

Sebelumnya, BGN telah mencopot kepala SPPG yang berkaitan dengan insiden dugaan keracunan makanan siswa SMAN 1 Berastagi.

Dapur SPPG tersebut juga disegel sebagai bagian dari langkah administratif.

"BGN juga memastikan kondisi mereka (siswa) dan kemudian mencari akar persoalannya," kata Sudaryono dalam unggahan Instagram resminya.

BGN juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karo.

Pemeriksaan terhadap sampel sisa lauk-pauk dilakukan bersama Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui penyebab kejadian.

Sejumlah siswa SMAN 1 Berastagi sebelumnya diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Insiden tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi BGN terhadap sistem keamanan pangan di seluruh SPPG.

Sudaryono mengatakan evaluasi juga dilakukan terhadap SPPG yang dinilai belum menjalankan standar dengan baik.

Namun, ia mengingatkan bahwa satu kasus tidak dapat dijadikan gambaran bahwa seluruh dapur SPPG bermasalah.

"Dari 27 ribu dapur, Alhamdulillah sebagian besar itu bekerja dengan baik dan kita harus upayakan yang baik itu terus tambah baik gitu, dan kita mengevaluasi bagi yang belum baik. Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup," ia menegaskan.

Selain menutup dapur yang tidak memenuhi standar, Sudaryono mengatakan BGN juga akan memberikan tindakan terhadap personel yang tidak mampu mengikuti standar yang ditetapkan.

"Dan bagi personel-personel yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau saya pecat status ASN PPPK-nya," ujar Sudaryono.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari evaluasi BGN untuk memperketat pengawasan program MBG, terutama dalam memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat memenuhi standar keamanan dan kualitas.* (cn/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Susanah Disebut Prabowo Berpenghasilan Rp700 Ribu per Kg, Benarkah? Keluarga Ungkap Faktanya
Usai 353 Siswa Diduga Keracunan MBG di Berastagi, BGN Pertimbangkan Test Kit di Setiap Dapur
200-300 Ekor Ikan Dibiarkan 12 Jam di Suhu Ruang, Ini 5 Hal Penting dari Bos BGN soal Keracunan MBG Karo
Gak Boleh Tipu-tipu! Diaspora Tantang Pejabat Icip Menu MBG Sama Persis dengan Siswa
"Kalau Enggak Mampu, Mundur Aja!" Kepala BGN Ancam Pecat Kepala SPPG usai 353 Siswa Keracunan MBG
Terbongakar Prabowo Sebut Susanah Pengupas Bawang, Fakta di Lapangan Ternyata Pekerja Dapur MBG
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru