"Melawan tim seperti Korea, bola-bola atas sulit berhasil. Kita harus kembali ke dasar, mainkan bola dengan baik, dan berpikir kreatif antarlini," ujarnya.
Menurut Vanenburg, penguasaan taktik dan kecerdasan bermain hanya bisa dibentuk lewat pengalaman bermain secara rutin.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menit bermain di level klub bagi para pemain muda.
"Ini dua hal yang harus dibicarakan. Fisik dan jam terbang. Kalau pemain ini kembali ke klubnya, mereka harus bermain secara reguler agar saat menghadapi turnamen seperti ini, mereka sudah siap," pungkasnya.
Kegagalan di kualifikasi Piala Asia U-23 ini membuka ruang evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan pemain muda di Indonesia.
Minimnya kompetisi usia muda yang konsisten, serta belum meratanya kesempatan bermain di level klub, menjadi pekerjaan rumah besar bagi PSSI dan stakeholder sepak bola nasional.*