Tim Ekspedisi Indonesia Raya, yang membawa misi menancapkan Merah Putih di puncak Aconcagua, harus menghadapi dilema antara ambisi dan keselamatan. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Namun, alam menunjukkan kuasanya. Awan Cumulonimbus menggumpal di cakrawala, menandai badai yang siap melanda.
Secara fisik, prajurit elite mampu mencapai puncak tanpa menunggu Sabar Gorky. Secara administratif, pencapaian puncak akan memvalidasi investasi besar sponsor dan logistik internasional.
Tetapi prinsip Korps Marinir jelas: tidak ada rekan yang ditinggalkan.
Manajer pendakian, Dar Edi Yoga, berkoordinasi melalui telepon satelit dengan Komandan Korps Marinir saat itu, Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, serta Tomy Winata selaku pendukung utama. Keputusan berat pun diambil: tim menunda puncak dan segera turun demi keselamatan semua anggota.
"Pulang dengan selamat adalah yang utama, dan Gunung Aconcagua tidak akan ke mana-mana," tegas Dar Edi Yoga.
Keputusan ini menjadi kemenangan moral bagi tim. Letkol (Mar) Rivelson Saragih dan seluruh tim menegaskan, prestasi sejati bukan ditentukan oleh bendera di puncak, melainkan kembalinya seluruh personel dengan selamat.
Kisah ini menarik simpati lintas matra. Atase Pertahanan RI untuk Brasil dan Argentina saat itu, Kolonel Budhi Achmadi, hadir menyambut kepulangan tim, simbol solidaritas yang melampaui jabatan dan matra.
Ekspedisi ini membuktikan bahwa di gunung setinggi apa pun, kemenangan terbesar bukan menaklukkan medan, melainkan menaklukkan ego pribadi. Nyawa, kehormatan, dan persaudaraan adalah nilai yang tak tergantikan oleh trofi atau bendera apa pun.*