BREAKING NEWS
Kamis, 26 Februari 2026

Gunung Tertinggi Amerika Selatan Menjadi Pelajaran: Ego Ditundukkan Demi Nyawa

gusWedha - Kamis, 26 Februari 2026 19:44 WIB
Gunung Tertinggi Amerika Selatan Menjadi Pelajaran: Ego Ditundukkan Demi Nyawa
Tim Ekspedisi Indonesia Raya, yang membawa misi menancapkan Merah Putih di puncak Aconcagua, harus menghadapi dilema antara ambisi dan keselamatan. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ARGENTINA Maret 2016 menjadi saksi perjuangan manusia melawan ego di ketinggian Andes.

Tim Ekspedisi Indonesia Raya, yang membawa misi menancapkan Merah Putih di puncak Aconcagua, harus menghadapi dilema antara ambisi dan keselamatan.

Di ketinggian 6.650 meter di atas permukaan laut, puncak tampak sangat dekat—hanya tersisa 300 meter.

Baca Juga:

Di sana berdiri Sabar Gorky, pendaki tunadaksa legendaris dengan satu kaki, ditemani prajurit elite Denjaka dan Taifib Korps Marinir TNI AL, dipimpin Letkol (Mar) Rivelson Saragih.

Namun, alam menunjukkan kuasanya. Awan Cumulonimbus menggumpal di cakrawala, menandai badai yang siap melanda.

Secara fisik, prajurit elite mampu mencapai puncak tanpa menunggu Sabar Gorky. Secara administratif, pencapaian puncak akan memvalidasi investasi besar sponsor dan logistik internasional.

Tetapi prinsip Korps Marinir jelas: tidak ada rekan yang ditinggalkan.

Manajer pendakian, Dar Edi Yoga, berkoordinasi melalui telepon satelit dengan Komandan Korps Marinir saat itu, Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, serta Tomy Winata selaku pendukung utama. Keputusan berat pun diambil: tim menunda puncak dan segera turun demi keselamatan semua anggota.

"Pulang dengan selamat adalah yang utama, dan Gunung Aconcagua tidak akan ke mana-mana," tegas Dar Edi Yoga.

Keputusan ini menjadi kemenangan moral bagi tim. Letkol (Mar) Rivelson Saragih dan seluruh tim menegaskan, prestasi sejati bukan ditentukan oleh bendera di puncak, melainkan kembalinya seluruh personel dengan selamat.

Kisah ini menarik simpati lintas matra. Atase Pertahanan RI untuk Brasil dan Argentina saat itu, Kolonel Budhi Achmadi, hadir menyambut kepulangan tim, simbol solidaritas yang melampaui jabatan dan matra.

Ekspedisi ini membuktikan bahwa di gunung setinggi apa pun, kemenangan terbesar bukan menaklukkan medan, melainkan menaklukkan ego pribadi. Nyawa, kehormatan, dan persaudaraan adalah nilai yang tak tergantikan oleh trofi atau bendera apa pun.*

(dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Indonesia Siap Bertanding di SEA Games 2027 Malaysia, Meski Daftar Cabor Masih Negosiasi
Trump Ultimatum Iran: Capai Kesepakatan Nuklir dalam 2 Minggu atau “Hal Buruk” Terjadi
Pondok Pesantren Sultan Jaya Cilegon Diresmikan, Pemerintah dan Tokoh Agama Bersatu Dukung Pendidikan Qur’ani
Puluhan Warga Sesak Napas, PT Vopak Klarifikasi Asap Kuning Bukan Bahaya Gas
Puluhan Warga Dilarikan ke Rumah Sakit Setelah Kebocoran Gas Asam Nitrat PT Vopak di Cilegon, Pemerintah Turun Tangan
Gubernur Aceh Muzakir Manaf Resmi Lantik 5.486 PPPK Paruh Waktu, Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab dan Profesionalisme
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru