"Mobil kami tidak untuk jalan aspal, lebih cocok untuk berlumpur karena berbeda suspensinya," ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Meski begitu, hal tersebut tidak menghalanginya untuk menyelesaikan Special Stage (SS) yang dilombakan. Ia menyebut ajang ini sekaligus menjadi pemanasan menjelang Kejurnas Rally berikutnya di Kalimantan Selatan.
Menurut Ijeck, lintasan gravel atau tanah berbatu justru lebih menantang dibandingkan aspal karena kondisi trek yang tidak bisa diprediksi.
"Kalau gravel lebih menantang karena track bisa berubah. Aspal itu lebih ke racing line dan titik pengereman, tapi masing-masing punya kesulitan," jelasnya.
Hingga saat ini, Ijeck bersama navigator telah menyelesaikan dua SS dan akan melanjutkan sisa etape pada Minggu (12/4).
Ia berharap bisa lebih menguasai lintasan dan meraih hasil maksimal di ajang tersebut.
Selain itu, Ijeck juga berharap event balap seperti ini terus digelar di Sumatera Utara karena dinilai mampu menarik pereli dari luar daerah hingga mancanegara.
Menurutnya, ajang otomotif seperti rally tidak hanya menjadi wadah hobi, tetapi juga berdampak pada peningkatan pariwisata dan perekonomian daerah.
"Kalau event nasional atau internasional digelar, penonton dari luar juga datang. Ini bisa dorong ekonomi dan promosi pariwisata Sumut," ungkapnya.*