Sebut Hasil Autopsi Cukup, Polda Sumut Tolak Ekshumasi Mantan Istri Polisi yang Tewas Tertembak
MEDAN Polda Sumatera Utara menilai ekshumasi makam W (30), mantan istri seorang polisi yang meninggal akibat luka tembak, belum diperlukan.
PERISTIWA
Oleh: Noorhalis Majid
SUDAH dengar cerita tragis remaja 18 tahun di Deli Serdang, dibakar hidup-hidup hanya karena mencuri 2 karung ubi? Mencuri memang tidak bolah, tapi kenapa dihakimi demikian sadis? Kenapa yang mencuri trilyunan uang negara tidak diperlakukan sesadis itu?
Hanya orang miskin ektrim yang akan mencuri 2 karung ubi. Boleh jadi karena terdesak lapar. Sebab mencuri 2 karung ubi, tidak akan membuat kaya.
Pertanda apa ini? Apakah negeri ini sedang stres lagi depresi? Kenapa sampai ada yang miskin ektrim hingga harus mencuri? Dimana tugas negara yang berjanji memelihara orang miskin? Untuk siapa kekayaan alam yang telah dieksploitasi secara gegap gempita itu? Hilangkah kedermawanan sosial sesama warga, sampai tega membakar hidup-hidup saudaranya yang mencuri karena miskin?
Di lain sisi kita juga menyaksikan, pemerintah yang pongah menaikkan pajak dan retribusi sesuka hati. Setelah pajak dan retribusi warga dipugut, lantas hasilnya dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak penting. Bahkan untuk berpoya-poya dan dikorupsi.
Keberadaan pemerintahan, ternyata bukan untuk membangun kesejahteraan bersama, tapi justru menciptakan kesengsaraan dan penderitaan warga.
Di tengah sulitnya warga mencari penghidupan, bukan justru dibantu dan difasilitasi, tapi malah dibebani dengan kenaikan pajak dan retribusi yang berlapis-lapis.
Warga miskin berjibaku dengan kehidupan yang penuh beban, tapi pejabat pemerintahan asyik main tik tok, mabuk Instagram, naik mobil mewah, hidup berkecukupan dengan fasilitas negara.
Apakah ini buah dari Pemilu yang manipulatif? Dimana kepala daerah yang terpilih bukan saja tidak pintar dan tidak kreatif, tapi juga tidak peduli, tidak punya sensitivitas, kepekaan dan keberpihakan pada warga tumpul. Yang terpilih orang-orang pongah - sombong, yang menakar demokrasi hanya dari kemampuan menyuap warga miskin saat Pemilu. Setelah terpilih bukannya bekerja untuk membangun kesejahteraan bersama, tapi justru membebani warga.
Tulisan pendek ini lebih banyak mengajukan pertanyaan, mudah-mudahan dengan pertanyaan itu mampu memperbaiki segala niat, terutama niat dalam bernegara, berpemerintahan, bahwa sesungguhnya negara dan pemerintahan ini dibentuk dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun kesejahteraan umum. Bukan kesejahteraan orang perorang, apalagi hanya untuk para pejabatnya saja.*
*) Penulis adalah aktivis
MEDAN Polda Sumatera Utara menilai ekshumasi makam W (30), mantan istri seorang polisi yang meninggal akibat luka tembak, belum diperlukan.
PERISTIWA
MEDAN Kualitas udara di Kota Medan pada Rabu (23/9/2026) terpantau berada dalam kategori Baik hingga Sedang. Kondisi tersebut berdasarkan p
KESEHATAN
JAKARTA Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Ketua TP PKK, sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Sumatera Utara (Sum
PEMERINTAHAN
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut ratarata 20 hingga 30 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikenai penghentian operasional s
NASIONAL
JAKARTA Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak naik hingga a
EKONOMI
JAKARTA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Rupiah naik 66 poin atau
EKONOMI
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,56 persen ke level 6.374,91 pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Penguatan terja
EKONOMI
JAKARTA Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana menilai tidak ada istilah terlambat untuk mengajukan koreksi yang berkaitan deng
POLITIK
LUBUKPAKAM Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut kontraktor Safruddin Habyby alias Kakek dengan pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan dalam pe
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Keluarga besar Herlambang Panggabean menggelar aksi damai di depan Kantor Pusat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanaha
PERISTIWA