BREAKING NEWS
Selasa, 11 Agustus 2026

Indonesia dan Dilema Energi ala Prometheus dan Ikarus

- Selasa, 09 Desember 2025 17:16 WIB
Indonesia dan Dilema Energi ala Prometheus dan Ikarus
Ilustrasi. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Andra Dihat Putra, S.Kom., FMVA.

DALAM ekonomi, sering kali kita menghadapi pilihan yang tidak semata teknis, tetapi juga moral dan psikologis. Ketika Indonesia memperdebarkan energi nuklir, terutama dalam konteks transisi menuju emisi nol bersih, perdebatan itu mengingatkan kita pada dua mitologi Yunani yang sudah berusia ribuan tahun.

Prometheus yang mencuri api untuk memberi manusia kemampuan mencipta, dan Ikarus yang jatuh karena sayap lilinnya meleleh ketika terlalu dekat dengan matahari. Keduanya memberi gambaran sederhana tentang dua jalan: keberanian yang terukur, atau ketakutan yang membatasi.

Baca Juga:

Pada akhirnya, pertanyaan soal energi nuklir tidak hanya mengenai reaktor atau teknologi. Ini soal bagaimana sebuah bangsa memahami risiko dan peluang, serta bagaimana kita belajar dari sejarah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Makna Api Prometheus dalam Konteks Energi

Api yang dibawa Prometheus selalu dimaknai sebagai simbol pengetahuan, teknologi, dan keberanian mengambil keputusan yang membuka kemungkinan baru.

Dalam konteks nuklir, api itu setara dengan kemampuan manusia menghasilkan energi bersih dari atom secara aman dan efisien. Satu gram uranium-233 dari siklus thorium dapat menghasilkan energi setara berton-ton batu bara.

Sebuah reaktor berkapasitas 500 megawatt dapat memasok listrik bagi jutaan rumah selama puluhan tahun tanpa emisi karbon.

Bila dilihat dari perspektif ekonomi pembangunan, energi seperti ini memberikan apa yang oleh filsuf Jerman Martin Heidegger disebut kondisi keterbukaan.

Dengan pasokan energi yang stabil dan rendah emisi, sebuah negara memiliki ruang untuk memikirkan kebijakan yang lebih panjang: industrialisasi hijau, kualitas udara lebih baik, serta anggaran kesehatan yang lebih ringan karena polusi berkurang.

Energi semacam ini tidak hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi memberi waktu bagi generasi berikutnya untuk berinovasi.

Contoh negara yang memilih jalur Prometheus cukup banyak. Prancis mengandalkan nuklir untuk sekitar tujuh puluh persen listriknya dan memiliki emisi per kapita lebih rendah dari banyak negara Eropa.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gubernur Aceh Libatkan Tim China untuk Evakuasi Korban Longsor, Wakil Ketua MPR: Tidak Salah
Outlook 2026: APINDO Waspadai Risiko Global, Namun Prediksi Pertumbuhan Tetap Positif
Strategi BI Hadapi Omba Ketidakpastian Global, Ekonomi RI Tetap Tangguh
Gubernur Sumut Tegaskan Reforma Agraria Harus Berikan Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam Akibat Bendungan Aek Mandurana Jebol Pascabanjir, PERWASI Tapsel Desak Perbaikan
Inflasi Sumut Turun ke 3,96 Persen, Pengamat Sebut Intervensi Komoditas Berhasil
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru