Istana Balas Kritik Eks Wamenlu soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Untuk Bangsa dan Negara
JAKARTA Istana Kepresidenan melalui Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, M. Qodari, merespons kritik eks Wakil Menteri Luar Ne
NASIONAL
Oleh:Guntur Soekarno.
BELAKANGAN ini, bila menonton televisi, kita akan menyaksikan ingar bingar, pro kontra, apakah dalam kondisi bangsa dan negara dilanda musibah bencana alam saat ini, boleh atau tidak kita menerima bantuan luar negeri.
Berbagai pihak sudah menyatakan pendapatnya, terutama para 'mahawikan' (figur-figur yang maha mengetahui); intelektual sampai dengan rakyat awam pada umumnya. nCelakanya, polemik ini sudah menyentuh dan menyeret-nyeret lembaga kepresidenan kita.Baca Juga:
Presiden secara terbuka menyatakan kita masih mampu mengatasi bencana tersebut dan belum perlu menerima bantuan luar negeri.
Menurut hemat penulis, Presiden menyatakan demikian sudah barang tentu tidak asal menyatakan pendapatnya begitu saja. Figur sekaliber Prabowo Subianto, bila mengeluarkan pendapat, sudah dikaji sedalam-dalamnya. Apa untung ruginya untuk bangsa dan negara.
Sebagai kepala negara, beliau pasti sudah meminta atau menerima masukan dari para pembantunya yang jumlahnya tidak sedikit.
Ada para menteri dan wakil menteri terkait, ada BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), juga sudah barang tentu masukan dari komunitas intelijen kita dan lain-lain.
MANA YANG BENAR, MENOLAK ATAU MENERIMA BANTUAN
Lepas dari mana yang benar, yang pasti para korban bencana baik di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bahkan sebagian kecil di Jawa, mereka semua saat ini memerlukan bantuan, tidak peduli bantuan dari dalam maupun luar negeri.
Yang terpenting, penderitaan mereka secepatnya dapat diatasi, seperti pengadaan makanan, air bersih, listrik, pakaian, dan perumahan.
Untuk menjawab hal tersebut di atas, ada baiknya kita membuka kembali ajaran Bung Karno mengenai kebutuhan absolut (mutlak) bagi rakyat yang disingkat 'Lima P', yaitu perut, pakaian, perumahan, pergaulan, dan pengetahuan. Dalam P yang kelima, pengetahuan, termasuk di dalamnya pembudayaan.
Di samping itu, kita harus pula berpegang pada ajaran yang lain bahwa kita sah-sah saja menerima bantuan dari mana pun datangnya, asalkan bantuan tadi haruslah benar-benar bantuan yang tanpa syarat-syarat yang merugikan bangsa dan rakyat Indonesia.
JAKARTA Istana Kepresidenan melalui Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, M. Qodari, merespons kritik eks Wakil Menteri Luar Ne
NASIONAL
JAKARTA Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026. Pada pukul 0
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jaka
NASIONAL
BANDA ACEH Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga fondasi penting dalam memban
PEMERINTAHAN
ACEH TENGAH Lazismu Aceh Tengah menyalurkan hewan qurban kepada masyarakat penyintas bencana yang saat ini tinggal di hunian sementara (
NASIONAL
MEDAN Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan Pancasila merupakan bintang penuntun yang telah terbukti menjaga ketangguhan Ind
PEMERINTAHAN
PALANGKA RAYA Kematian narapidana Anton Kurniawan, mantan anggota kepolisian yang menjalani hukuman penjara seumur hidup dalam kasus pen
PERISTIWA
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Merah Putih KPK, Kuningan
NASIONAL
BIAK NUMFOR Kepolisian Daerah Papua menyebut lima orang meninggal dunia akibat ledakan yang diduga berasal dari bom sisa Perang Dunia II
PERISTIWA
JAKARTA Pergerakan harga sejumlah komoditas pangan di tingkat pedagang eceran nasional terpantau mengalami kenaikan pada awal Juni 2026.
EKONOMI