Salah satu tantangan terbesar pendidikan sains di Indonesia adalah minimnya budaya ilmiah. Sains sering dianggap sulit, jauh dari kehidupan sehari hari, dan tidak memberi peluang karier yang jelas.
Kehadiran PLTN dapat mengubah persepsi ini. Ketika siswa tahu bahwa negara benar-benar membutuhkan ahli fisika reaktor atau ahli instrumentasi nuklir, maka belajar sains bukan lagi beban, melainkan kesempatan.
Negara seperti Cina dan India mengalami fenomena ini ketika mulai membangun industri teknologi tinggi. Anak muda memiliki aspirasi baru karena melihat bahwa menjadi ilmuwan bukan sekadar karier akademik, tetapi profesi strategis untuk masa depan bangsa. Indonesia dapat mengalami perubahan budaya yang sama.
Nuklir sering dibahas hanya dalam konteks listrik. Padahal dampaknya lebih luas dari itu. Nuklir dapat menggerakkan transformasi pendidikan sains, membangkitkan riset, dan menciptakan ekosistem talenta teknologi tinggi yang selama ini menjadi kelemahan kita.
Jika Indonesia ingin melompat ke ekonomi berbasis teknologi, maka pendidikan sains harus diperkuat, dan nuklir adalah salah satu katalis terkuat untuk memulai proses itu.
Masa depan energi dan masa depan pendidikan sering berjalan berdampingan. Bila Indonesia berani melangkah ke energi nuklir, maka kita juga sedang melangkah ke masa depan ilmu pengetahuan yang lebih maju.*