BREAKING NEWS
Kamis, 04 Juni 2026

Bukan Operasi Penangkapan Biasa: Strategi Perang AS Berbasis Pusat Gravitasi

BITV Admin - Rabu, 07 Januari 2026 15:33 WIB
Bukan Operasi Penangkapan Biasa: Strategi Perang AS Berbasis Pusat Gravitasi
Marsda TNI Budhi Achmadi, Asisten Strategi Panglima TNI. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Konsep ini pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Carl von Clausewitz pada awal abad ke-19. Dalam On War, Clausewitz menyebut bahwa setiap musuh memiliki "pusat kekuatan dan gerak" yang jika dihantam, akan melumpuhkan keseluruhan kemampuan perlawanan.


Pada abad ke-20, konsep ini berkembang pesat, terutama dalam doktrin militer Amerika Serikat. Kolonel John Warden III memperkenalkan Five Rings Model yang membagi sistem negara menjadi lima lapisan: kepemimpinan, sistem vital, infrastruktur, populasi, dan kekuatan militer.

Menurut Warden, kepemimpinan berada di lapisan terdalam dan merupakan pusat gravitasi paling menentukan.

Pola ini terlihat jelas dalam Perang Teluk 1991, operasi NATO di Yugoslavia (1999), invasi Irak (2003), hingga berbagai operasi decapitation strike dalam perang melawan teror.

Dalam setiap konflik tersebut, kepemimpinan nasional dan militer menjadi sasaran utama, baik melalui serangan militer, tekanan ekonomi, maupun perang informasi.

AS bahkan pernah melakukan beberapa kali operasi militer berbasis CoG kepemimpinan nasional, yaitu saat memburu Presiden Panama, Manuel Noriega (1989); Presiden Irak, Saddam Hussein (2003); Presiden Libya, Muammar Gaddafi (2011); Presiden Guatemala, Alfonso Portillo (2013); Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandes (2022); dan sekarang Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Bagaimana Merumuskan CoG

Menentukan pusat gravitasi bukanlah pekerjaan sederhana. Ia menuntut pemahaman menyeluruh terhadap sistem negara lawan: bagaimana kekuasaan dijalankan, apa sumber legitimasi politik, siapa aktor kunci, dan sejauh mana kohesi elite terjaga.

Dalam perencanaan strategis modern, CoG dirumuskan melalui identifikasi critical capabilities (kemampuan utama), critical requirements (syarat pendukung), dan critical vulnerabilities (kerentanan utama).

Dalam banyak kasus, kepemimpinan nasional dan kepemimpinan militer memang berada pada CoG terdalam, nomor satu, karena merekalah yang mengendalikan keputusan strategis dan loyalitas kekuatan negara.

Berikutnya, menyerang CoG terdalam juga berisiko tinggi. Kesalahan identifikasi dapat memperkuat perlawanan dan solidaritas nasional lawan.

Oleh karena itu, perumusan dan pemilihan CoG melibatkan pimpinan nasional tertinggi. Strategi ini juga hampir selalu dikombinasikan dengan tekanan multidomain: ekonomi, diplomasi, siber, dan informasi.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Singgung Elite Nyinyir di Medsos: Jangan-jangan Dibayar
Prabowo Bantah Tuduhan Ingin Jadi Diktator: Saya Bersumpah Cinta Tanah Air Sejak Muda
Gubernur Koster Mulai Pembangunan Titik 9 dan 10 Jalan Shortcut Bali Utara–Selatan
Gempa M 6,4 Guncang Mindanao Filipina, BMKG Pastikan Indonesia Aman dari Tsunami
Venezuela, Minyak, dan Kembalinya Politik Kekuasaan Global AS
Diplomasi Berbuah Nyata, Indonesia Miliki Properti Pertama di Kota Suci
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Vietnam Gilas Myanmar 5-0

Vietnam Gilas Myanmar 5-0

MEDAN Tim Nasional Vietnam memperbesar kemenangan dengan menggilas Myanmar 50 pada babak kedua pertandingan Piala AFF U19 tahun 2026 di

OLAHRAGA