BREAKING NEWS
Rabu, 25 Februari 2026

Ukhuwah Islamiyah dan Tantangan Pendidikan Nasional

BITV Admin - Kamis, 08 Januari 2026 18:00 WIB
Ukhuwah Islamiyah dan Tantangan Pendidikan Nasional
Laksamana Muflih Iskandar Hasibuan, Lc, MAg, M.A., Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Laksamana Muflih Iskandar Hasibuan, Lc, MAg, M.A.

PENDIDIKAN nasional kita hari ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, berbagai kebijakan terus didorong untuk meningkatkan mutu akademik, literasi, dan daya saing global.

Di sisi lain, kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak kalah serius: menguatnya individualisme, menurunnya kepekaan sosial, serta rapuhnya etika pergaulan di kalangan pelajar.

Baca Juga:

Fenomena perundungan, kekerasan di sekolah, dan polarisasi sikap keagamaan menjadi tanda bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang utuh.

Dalam konteks inilah, nilai ukhuwah Islamiyah perlu dihadirkan kembali sebagai fondasi pendidikan, bukan sekadar wacana normatif, tetapi sebagai orientasi praksis. Al-Qur'an menegaskan secara lugas, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara" (QS Al-Hujurat: 10).

Pernyataan ini tidak bersifat simbolik, melainkan menegaskan bahwa persaudaraan adalah konsekuensi langsung dari iman dan harus tercermin dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Sayangnya, dalam praktik pendidikan, termasuk di sekolah-sekolah Islam, ukhuwah sering berhenti sebagai materi pelajaran atau slogan kegiatan seremonial.

Ia belum sepenuhnya menjelma menjadi budaya sekolah. Akibatnya, kita menyaksikan ironi: sekolah yang religius secara formal, tetapi miskin empati sosial; peserta didik yang terampil menghafal, tetapi gagap membangun relasi yang sehat dengan sesama.

Pendidikan dasar dan menengah sesungguhnya merupakan fase paling menentukan dalam pembentukan karakter. Nilai persaudaraan, empati, dan kepedulian sosial tidak dapat ditanamkan secara instan ketika seseorang telah dewasa.

Ia harus dibiasakan sejak dini, melalui lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan manusiawi. Jika sekolah gagal menjadi ruang aman bagi tumbuhnya ukhuwah, maka peserta didik akan belajar kompetisi yang kering nilai, bahkan konflik, sebagai bagian dari keseharian.

Dalam konteks pendidikan nasional, tantangan ini semakin kompleks dengan kehadiran media digital. Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh dalam arus informasi yang deras, sering kali tanpa pendampingan nilai yang memadai.

Polarisasi pandangan, ujaran kebencian, dan sikap eksklusif dengan mudah masuk ke ruang kelas. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transmisi pengetahuan, tetapi harus menjadi ruang penjernihan nilai.

Bagi Muhammadiyah, persoalan ini memiliki dimensi ideologis yang kuat. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai sarana pencerahan dan pembebasan.

Melalui Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Muhammadiyah mengelola ribuan sekolah yang sejatinya bukan hanya institusi akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter kebangsaan dan keislaman.

Ukhuwah Islamiyah, dalam hal ini, bukanlah nilai tambahan, melainkan ruh dari pendidikan itu sendiri.

Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat relevan ketika menyamakan kaum mukminin dengan satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, bagian lain turut merasakannya.

Metafora ini mengajarkan bahwa ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain, termasuk di lingkungan sekolah, adalah tanda rusaknya kesadaran moral.

Pendidikan yang membiarkan perundungan, diskriminasi, atau kekerasan simbolik berarti gagal menjalankan mandat kemanusiaannya.

Karena itu, penguatan ukhuwah harus diterjemahkan secara konkret dalam kebijakan dan praktik pendidikan. Kurikulum perlu memberi ruang lebih besar bagi pendidikan karakter yang hidup, bukan sekadar normatif.

Guru harus diposisikan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai teladan etika sosial. Sekolah perlu membangun iklim belajar yang menumbuhkan kerja sama, saling menghargai, dan kepedulian terhadap yang lemah.

Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa konflik internal hanya akan melahirkan kelemahan dan hilangnya kekuatan (QS Al-Anfal: 46). Peringatan ini relevan tidak hanya dalam konteks umat, tetapi juga dalam dunia pendidikan.

Sekolah yang kehilangan semangat persaudaraan akan kehilangan daya hidupnya, betapapun lengkap fasilitas dan kurikulumnya.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan nasional, termasuk pendidikan Muhammadiyah, tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi oleh keberhasilannya membentuk manusia yang berkarakter, berempati, dan mampu hidup bersama dalam perbedaan.

Ukhuwah Islamiyah, jika dipahami dan dihidupkan secara sungguh-sungguh, dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara moral dan sosial.*


*) Penulis adalahMahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Babinsa Koramil Kerambitan Distribusikan Sembako kepada Warga Desa Tibubiu
Program Makan Bergizi Gratis Lampaui Target, Kini Capai 55,1 Juta Penerima
Target Jelas, Komitmen Kuat: Kalapas Hamdi Tekankan Bekerja Sepenuh Hati
Sekolah Online Kembali Jadi Pertanyaan Publik, Ini Kata Kemenkes soal ‘Super Flu’
Mengapa Puasa Ramadan Terus Maju di Kalender Masehi? Ini Penjelasannya
Waspada! Densus 88 Beberkan 27 Grup Medsos Anak Terpapar Ideologi Neo-Nazi dan White Supremacy
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru