BREAKING NEWS
Kamis, 22 Januari 2026

Merawat Pendidikan PAUD dan Dikdasmen Pasca Banjir: Catatan tentang Ketangguhan yang Dibangun Perlahan

T.Jamaluddin - Kamis, 15 Januari 2026 12:50 WIB
Merawat Pendidikan PAUD dan Dikdasmen Pasca Banjir: Catatan tentang Ketangguhan yang Dibangun Perlahan
Laksamana Muflih Iskandar Hasibuan, Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Daripada menempatkan anak-anak pada situasi yang memaksa yakni segera "mengejar ketertinggalan", sekolah diharapkan untuk bersikap arif, menentukan materi yang benar-benar esensial untuk dipelajari, sekaligus menyederhanakan atau menunda tuntutan pembelajaran yang tidak mendesak.

Sementara pada pendidikan dasar dan menengah, asesmen sederhana untuk memahami kondisi belajar siswa sering kali jauh lebih bermanfaat daripada ujian formal.

Pembelajaran dapat dimulai dari hal-hal kecil: menyanyi bersama, bercerita, menggambar, atau bermain peran yang membantu anak mengekspresikan perasaannya. Lingkungan sekolah diharapkan menghadirkan ketenangan. Cara guru menyapa murid, memberi waktu, dan menyesuaikan pembelajaran sangat krusial.

Pemulihan psikis ini sama pentingnya dengan pemulihan fisik sekolah, karena kondisi emosional yang stabil menjadi dasar bagi proses belajar yang sehat.

Pemulihan ini penting, pertama, untuk mengembalikan rasa aman dan kepercayaan anak terhadap lingkungan sekolah, dan kedua, untuk membantu anak mengelola rasa takut, cemas, serta kebingungan yang muncul akibat pengalaman bencana.

Apabila pemulihan psikis ini terabaikan, dampak krusial yang dapat muncul adalah terganggunya motivasi dan konsentrasi belajar anak, yang dalam jangka panjang berisiko menimbulkan penolakan terhadap sekolah serta hambatan perkembangan emosional.

Selain hal di atas, pembersihan menyeluruh pasca kebanjiran juga kita perhatikan. Kita membersihkan lumpur dan sampah yang mengendap di ruang kelas, toilet, perpustakaan, serta area sekolah lainnya, yang kemudian diikuti dengan sanitasi dan disinfeksi untuk mencegah munculnyapenyakit kulit, diare, dan demam berdarah.

Perlahan fasilitas sekolah juga kita perhatikan dengan baik, instalasi listrik dan air, kondisi meja dan kursi, buku-buku pelajaran, hingga peralatan laboratorium.

Ventilasi dan pengeringan ruang berjalan optimal juga sangat kita juga kita utamakan agar kelembapan dapat dikurangi dan mencegah pertumbuhan jamur dan menjaga kualitas udara di lingkungan sekolah.


Jika ditarik lebih jauh, banjir seharusnya mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana sekolah dipersiapkan menghadapi situasi krisis. Ketangguhan pendidikan tidak lahir dari respons sesaat, melainkan dari kebiasaan merencanakan, berkolaborasi, dan belajar dari pengalaman.

Pendidikan kebencanaan, rencana pembelajaran darurat, serta keterlibatan orang tua dan komunitas bukanlah tambahan, melainkan bagian dari kerja pendidikan itu sendiri.

Pada akhirnya, pendidikan kita diharapkan menjadi pendidikan yang tetap hadir ketika keadaan tidak ideal. Di sekolah-sekolah PAUD dan Dikdasmen, ketangguhan itu sering tampak dalam bentuk yang sederhana. Anak yang kembali dijalani hari demi hari.*

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Tak Kenal Lelah, Relawan MDMC dan UMMAH Terobos Sungai Dengan Sling Demi Layani Warga Terisolasi di Takengon
Bobby Nasution Blak-blakan: Launching Meriah, Tapi Warga Binjai Gagal Nikmati UHC Prioritas
Tragis, Siswa SD Tewas Tertimpa Pohon Tumbang di Padangsidimpuan
Menkes Ungkap Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi, Jadi Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045
BRI Peduli Aceh: Salurkan Bantuan Langsung dan Pulihkan Semangat Anak-anak Pascabencana
Agus Saputra Menjadi Korban Pengeroyokan di SMKN 3 Tanjab Timur, Ini Kronologi Kejadian
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru