BREAKING NEWS
Kamis, 22 Januari 2026

Merawat Empati Jurnalisme di Tengah Gempuran AI

BITV Admin - Senin, 19 Januari 2026 16:43 WIB
Merawat Empati Jurnalisme di Tengah Gempuran AI
Dr. Bagus Sudarmanto, S.Sos., M.Si., Dosen Kriminologi FISIP UI, Dewan Redaksi keadilan.id, dan Pengurus PWI Jaya. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Namun Nicholas Diakopoulos (2019) mengingatkan bahwa algoritma tidak pernah netral. Setiap sistem AI membawa bias dari data, desain, dan kepentingan yang membentuknya.

Dalam konteks Indonesia, bias semacam ini menjadi berbahaya ketika bersinggungan dengan isu politik, identitas, dan konflik sosial.

Risiko lain yang kian nyata adalah informasi/" target="_blank">disinformasi visual dan audio. Chesney dan Citron (2019) memperingatkan bahwa teknologi deepfake berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik terhadap bukti digital.

Dalam konteks Indonesia, dengan literasi media yang belum merata dan polarisasi politik yang kuat, manipulasi berbasis AI dapat memperdalam krisis kepercayaan terhadap media arus utama.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan jurnalisme Indonesia bukan sekadar soal adaptasi teknologi, melainkan soal orientasi dan bentuk praktik jurnalistik.

Genre jurnalistik lama, sebutlah straight news, feature, maupun liputan seremonial, tidak lagi cukup untuk menghadapi banjir konten otomatis. Indonesia saat ini berada pada titik negosiasi yang krusial.

Karena itu, gagasan tentang genre baru yang tidak menyerahkan kerja jurnalistik kepada mesin, tetapi menempatkan AI sebagai alat bantu dalam jurnalisme data, investigasi, dan verifikasi mendalam.

Lewis, Guzman, dan Schmidt (2019) menegaskan bahwa kolaborasi manusia dan mesin paling efektif ketika AI menangani pengolahan data, sementara jurnalis bertanggung jawab atas interpretasi, konteks, dan implikasi sosial berita.

Genre baru ini juga berarti menjadikan verifikasi sebagai identitas utama media. Lucas Graves dan Rasmus Kleis Nielsen (2016) menekankan bahwa jurnalisme verifikasi bukan sekadar teknik, melainkan posisi moral di tengah ekosistem informasi yang rapuh.

Dalam situasi maraknya hoaks, manipulasi politik, dan konten AI generatif, verifikasi perlu diperlakukan sebagai produk jurnalistik itu sendiri.

Karena itu, jurnalisme Indonesia perlu kembali menegaskan sisi yang tidak dapat direplikasi mesin, yakni empati terhadap warga, keberpihakan pada kelompok rentan, dan keberanian mengawasi kekuasaan.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2014) mengingatkan bahwa loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara, bukan kepada teknologi, pasar, atau algoritma.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Trump Bentuk Dewan Perdamaian untuk Selesaikan Konflik Gaza, Jadi Saingan DK PBB
Revisi UU Pemilu Masuk Prolegnas 2026, Presiden Prabowo Ingatkan Partai Politik Tidak Terjebak Kepentingan Kelompok
Restorative Justice, Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Bebas dari Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi
Tuntut Copot Kades, Mahasiswa dan Warga Gelar Aksi di Kantor Desa Indrayaman Batu Bara
Kadiv P3H Dorong Kanwil Kemenkum Bali Perkuat Layanan Publik dan Penyerapan Anggaran
Sudirman Said Kembali Diperiksa Kejagung, Kasus Petral Masih Bergulir
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru