BREAKING NEWS
Kamis, 12 Maret 2026

Realisme Global, Dunia (Tak) di Ambang Perang

BITV Admin - Minggu, 25 Januari 2026 07:47 WIB
Realisme Global, Dunia (Tak) di Ambang Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam Worl Economic Foum (WEF) 2026, Davos, Swiss, (22/1/2026). (foto: presidenrepublikindonesia/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Trump adalah Presiden AS pertama yang bersedia bertemu langsung dengan Kim Jong Un. Ia turut mendorong gencatan senjata di berbagai konflik, dari Timur Tengah hingga Asia Selatan.

Namun, wajah damai itu kontras dengan sikap agresif terhadap Iran dan pendekatan ambigu terhadap perang Rusia–Ukraina.

Trump melemahkan solidaritas NATO, menuntut Eropa membiayai keamanannya sendiri, sembari Amerika Serikat justru menikmati lonjakan harga energi akibat konflik tersebut.

Di Asia Pasifik, Trump tampil berbeda. Ia konsisten memperkuat kerja sama keamanan dengan Jepang dan Korea Selatan untuk membendung China.

Sementara di Amerika Latin, sikapnya tak kalah kontradiktif, keras terhadap Venezuela dan Kuba, tetapi relatif akomodatif terhadap Brasil di bawah Lula da Silva.

Benang merahnya bukan ideologi, melainkan kepentingan pragmatis. Trump tidak lagi menjadikan tatanan global sebagai kerangka tetap, melainkan sebagai ruang tawar-menawar.

Pada periode awal kepemimpinannya, Trump cenderung bertindak unilateral. Kini, ia lebih memilih negosiasi jangka pendek yang dievaluasi berkala, semuanya demi memaksimalkan posisi tawar Amerika Serikat tanpa membebani anggaran domestik.

Ketahanan Indonesia dalam Geopolitik

Dalam lanskap global yang cair dan penuh tekanan, Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk berpihak secara eksklusif. Dunia telah bergerak menuju tatanan multipolar, di mana Amerika Serikat, Uni Eropa, dan BRICS sama-sama menjadi poros penting ekonomi global.

Strategi bebas aktif tidak lagi cukup sebagai jargon historis. Ia harus diterjemahkan sebagai kemampuan menjaga jarak yang proporsional: tidak terseret konflik, tetapi juga tidak pasif.

Hubungan pragmatis dengan AS dan Uni Eropa penting untuk investasi dan teknologi, sementara BRICS menawarkan pasar masa depan dengan kekuatan demografis besar.

Ancaman paling nyata justru berada di sektor ekonomi domestik. Ketegangan geopolitik memicu volatilitas moneter, pelarian modal ke emas dan aset kripto, serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Hadiri Wisuda XXXV UNA, Bupati Baharuddin Tekankan Peningkatan Kualitas Generasi Muda
Harga Emas Meroket Hampir Rp 2,9 Juta per Gram, Ini Saran Ekonom
Bali Dorong Kendaraan Listrik Jadi Pilar Ekonomi Hijau, Gubernur Koster: Nusa Penida Jadi Pulau Ramah EV
Bareskrim Periksa 18 Petinggi Dana Syariah Indonesia dalam Kasus Dugaan Penipuan Rp2,4 Triliun
Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Kunjungan dari Inggris, Swiss, dan Prancis: Ini Hasil Kesepakatan yang Dibawa
Aceh Tamiang 58 Hari Pascabanjir Masih Bergelimang Lumpur, FPRB Dorong Pemerintah Gunakan Dana Desa untuk Padat Karya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru