BREAKING NEWS
Jumat, 20 Februari 2026

Membaca Peta Politik 2029

BITV Admin - Jumat, 20 Februari 2026 18:39 WIB
Membaca Peta Politik 2029
Ilustrasi. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Dinamikanya tidak hanya unik, tapi juga sarat simbol dan makna karena mempertemukan figur-figur dengan latar belakang politik dan sejarah yang cukup kuat di panggung nasional.

AHY, misalnya, dianggap sebagai figur muda penerus trah SBY yang membawa warisan Demokrat dengan segala citra kepemimpinan yang selama ini melekat pada seperti citra rasional-teknokratis ala SBY.

Lalu, di samping itu, ada sosok Gibran merepresentasikan kesinambungan gaya kepemimpinan populis-nasionalistik yang identik dengan citra kekuasaan Jokowi.

Sementara, di saat bersamaan hadir sosok Puan Maharani yang juga tidak kalah menarik sebagai seorang pewaris sah trah Sukarno melalui PDI Perjuangan dengan membawa figur besar Megawati.

Sudah barang tentu, dengan kemunculan ketiga figur ini, menegaskan sekali lagi soal politik Indonesia yang belum sepenuhnya lepas dari pengaruh dinasti.

Namun, betapapun demikian situasi riilnya, harus diakui bahwa dalam sistem demokrasi elektoral, legitimasi tetap dipengaruhi oleh kapasitas, rekam jejak, dan kemampuan menjalin koalisi luas dan men-drive kekuatan akar rumput.

Dinasti memang masih menjadi modal penting yang patut diperhitungkan, namun ia bukan jaminan kemenangan. Publik, terutama dari waktu ke waktu semakin rasional dan terinformasi, sehingga faktor kompetensi dan visi strategis menjadi penentu utama.

Dengan begitu, Pilpres 2029 tidak hanya tentang persaingan figur, melainkan juga tentang pertarungan narasi besar tentang arah Indonesia.

Apakah masyarakat Indonesia bakal memilih keberlanjutan kekuasaan berbasis jejaring domestik yang mapan, atau kepemimpinan dengan perspektif global yang progresif dalam membaca arah zaman? Dinamika inilah yang dipastikan bakal mewarnai perjalanan menuju 2029.

Strategi Global vs Domestik

Dalam lanskap politik global yang semakin memicu ketegangan geopolitik, peran seorang kepala negara begitu vital karena ia tidak hanya menjadi sosok yang memainkan peran penting di dalam negeri, tapi juga ikut menentukan arah dan kepentingan perdamaian dunia.

Di tengah rivalitas antara Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Rusia, dunia pun kini mengalami perubahan kekuatan dari unipolar menjadi multipolar.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Presiden Prabowo Dukung 20 Poin Perdamaian Gaza Trump, Berikut Isi Lengkapnya!
Bukti Kepedulian Nyata, Polres Gayo Lues Salurkan Bantuan Sembako Kapolri untuk Korban Bencana di Desa Agusen
Seniasih Giri Prasta Kukuhkan Ketua PUSPA Kabupaten/Kota se-Bali: Kerja Sama Pemerintah dan Masyarakat Kunci Cegah Kekerasan Anak
Sah! Kesepakatan Dagang Diteken, Tarif Impor Indonesia ke AS Turun dari 32 ke 19 Persen
Kapolda Aceh Pastikan Pembangunan Jembatan Bailey Sawang Selesai Tepat Waktu
Berkali-kali Mangkir, Kades Tanjung Harap Dijemput Paksa Polres Serdang Bedagai Terkait Kasus Penipuan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru