Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri pertemuan perdana (Inaugural Meeting) Board of Peace (BoP) di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/02/2026). (foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Pertama, Komitmen Pendanaan Raksasa. Amerika Serikat menjanjikan US$10 miliar, disusul komitmen miliaran Dolar dari negara-negara di Timur Tengah. Ini mencakup desain pengelolaan dana rekonstruksi yang akan melibatkan institusi keuangan global.
Kemudian kekuatan stabilisasi (pasukan internasional). Ini adalah titik di mana Indonesia mengambil peran paling strategis. Indonesia menyatakan kesiapan mengirimkan lebih dari 8.000 personel untuk international security/stabilization force. Indonesia mengambil beban operasional secara riil di lapangan.
Selanjutnya soal desain tata kelola (governance). Banyak proyek rekonstruksi pascaperang gagal bukan karena kurangnya dana, melainkan rapuhnya tata kelola sipil. BoP dirancang untuk memulihkan layanan publik, melatih aparat keamanan lokal, dan membangun kembali koridor hukum pada masa transisi.
Keterlibatan Indonesia dalam poros-poros ini juga beriringan dengan manuver ekonomi. Di hari yang sama, kunjungan di Washington juga membuahkan kesepakatan tarif resiprokal yang ditandatangani Presiden Trump dan Presiden Prabowo.
Selain itu ada deretan kesepakatan bisnis bernilai puluhan miliar Dolar dengan berbagai entitas bisnis Amerika. Polanya jelas hubungan RI-AS kini dibingkai dengan arsitektur kepentingan yang konkret, bukan sekadar retorika diplomasi.
Tentu, bukan karena romantisme sejarah Indonesia bisa berada di meja utama, melainkan karena kalkulasi geopolitik. Ada tiga alasan mendasar mengapa Indonesia memegang 'kartu truf' di Gaza.
Adanya legitimasi moral di dunia Islam. Ketika banyak aktor besar dicurigai memiliki agenda tersembunyi, posisi Indonesia relatif bersih dan dipercaya.
Konsistensi historis Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina membuat kita mampu menjadi "jembatan komunikasi" yang kerap hilang dari negara-negara Barat.
Selain itu yang krusial yakni membawa kapasitas riil. Di mana komitmen 8.000 personel mengubah status Indonesia dari sekadar "pendukung moral" menjadi "aktor eksekutor".
Dalam diplomasi internasional, mereka yang menaruh sumber daya di atas meja adalah mereka yang berhak ikut menentukan aturan main.
Lalu yang tak kalah penting yakni mengunci "exit strategy". Konflik sering kali berkepanjangan karena transisi tidak memiliki ujung yang jelas.